Penyebab Darah Tinggi di Usia Muda, Mulai dari Mager Hingga Obesitas

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ilustrasi anak hipertensi/tekanan darah tinggi. Shutterstock.com

Ilustrasi anak hipertensi/tekanan darah tinggi. Shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Hipertensi kerap disebut sebagai the silent killer, karena sering kali penderita tidak mengetahui dirinya menyandang hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Data World Health Organization (WHO) tahun 2015, menunjukkan sekitar 1,13 miliar orang di dunia mengalami darah tinggi.

Sementara di Indonesia sendiri berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, terdapat 33,4 persen orang yang mengalami hipertensi di usia muda. Ada beragam faktor yang mempengaruhi kondisi hipertensi di usia muda ini. Berikut 4 penyebab hipertensi di usia muda.

1. Kurangnya aktivitas fisik

Kurang aktivitas fisik jadi salah satu faktor penyebab hipertensi. Orang yang tidak aktif dan tidak melakukan aktivitas fisik cenderung memiliki detak jantung yang lebih tinggi. Semakin tinggi detak jantung, semakin keras jantung harus bekerja dengan setiap kontraksi dan semakin kuat gaya pada arteri. Hal ini dapat memicu darah tinggi.

Selain itu, kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga, dapat menimbun lebih banyak lemak dan membakar lebih sedikit kalori. Hal ini bisa berakibat penambahan berat badan, yang apabila berkelanjutan dapat menyebabkan obesitas. Untuk itu, orang yang kurang aktif dan kurang fit memiliki risiko lebih besar terkena tekanan darah tinggi.

2. Obesitas

Obesitas dan kenaikan berat badan merupakan faktor risiko hipertensi. Adanya kelebihan lemak tubuh merupakan faktor dominan predisposisi peningkatan tekanan darah dalam studi populasi cross (sectional dan longitudinal). Pada orang yang memiliki lemak tubuh berlebih, ginjal akan bekerja lebih keras. Hal ini mengakibatkan tekanan darah menjadi naik, kondisi seperti itu dapat memicu terjadinya hipertensi.

Selain hal tersebut dalam American Journal of Hypertension oleh L. J. Beilin menyebutkan bahwa kelebihan lemak tubuh, terutama obesitas sentral. Dikaitkan dengan apa yang disebut sindrom metabolik dari gangguan sensitivitas insulin, intoleransi glukosa, dan dislipidemia, yang bersenyawa dengan efek peningkatan tekanan darah memicu peningkatan risiko penyakit kardiovaskular seperti halnya tekanan darah tinggi, stroke, jantung, dan lainnya.

3. Terlalu Banyak Konsumsi Makanan Olahan

Makanan olahan seperti makanan ringan, frozen food, makanan yang diasinkan, dan lain sebagainya memiliki kandungan sodium (garam) yang tinggi. Ketika seseorang memakan terlalu banyak garam yang mengandung natrium, maka tubuh akan menahan air ekstra untuk 'mencuci' garam dari tubuh. Pada beberapa orang, ini dapat menyebabkan tekanan darah meningkat. Dari The American Heart Association sendiri merekomendasikan untuk membatasi asupan natrium harian tidak lebih dari 1.500 miligram.

Baca: Penyakit Obesitas Hingga Darah Tinggi Bisa Picu Pendarahan Otak

DIAH RETNO ANDANI | WHO | KEMKES.GO.ID | MAYOCLINIC

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."