Lanjut Olahraga Setelah Libur Lebaran, Lakukanlah Bertahap Agar Tidak Kaget

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ilustrasi wanita lari di atas treadmill. Freepik.com

Ilustrasi wanita lari di atas treadmill. Freepik.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Selama Ramadan, sebagian Anda cenderung mengurangi intensitas dan frekuensi rutinitas olahraga atau bahkan tidak melakukannya sama sekali dan ketika bulan suci untuk para Muslim itu berlalu, banyak dari Anda ingin kembali melakukan aktivitas secara rutin termasuk untuk tujuan dalam transformasi tubuh.

Namun, masalah kesehatan bisa muncul ketika kita mengubah rutinitas secara mendadak. Oleh karena itu, dokter dan peneliti bidang kardiovaskuler, Gusti Rizky Teguh Riyanto menyarankan Anda melakukan rutinitas olahraga secara perlahan dan bertahap. "Untuk aktivitas fisik, tubuh kita perlu melewati proses adaptasi agar tidak kaget dengan latihan intensif yang mendadak," kata Rizky dalam siaran persnya, Kamis 20 Mei 2021.

Dia mengatakan, sebagian besar masalah kesehatan yang timbul saat memulai latihan intensitas tinggi terjadi karena kita memaksa tubuh untuk bergerak tanpa beradaptasi.

Jantung Anda mungkin belum siap menghadapi rutinitas intensif. Ketika ini terjadi, serangan jantung dapat muncul, disertai risiko kesehatan lainnya seperti aritmia. Gejala yang dirasakan yaitu nyeri dada, sesak, atau pingsan.

Selain itu, kemungkinan terjadinya cedera tulang, sendi, dan otot juga meningkat, dan tubuh bisa mengalami kram, keseleo/terkilir, atau bahkan patah tulang. Rizky menuturkan, ada sejumlah hal penting yang perlu Anda perhatikan yakni memastikan selalu kapasitas tubuh sebelum memulai rutinitas olahraga, mengondisikan asupan nutrisi.

Selain itu, memastikan jadwal tidur atau istirahat Anda normal sehingga Anda merasa segar saat berolahraga, dan mulai dengan latihan dengan intensitas lebih rendah kemudian perlahan tingkatkan intensitasnya hingga Anda kembali ke rutinitas yang sesuai. "Saya sarankan untuk memulai dengan olahraga ringan seperti jalan pagi selama 30 menit," ujar Rizky.

Dalam kesempatan berbeda, selebritas sekaligus instruktur STRONG Nation™, Cut Memey juga menyarankan Anda memulai dengan latihan berintensitas rendah. "Karena sebagian dari kita tidak berolahraga sama sekali selama bulan puasa. ketahanan fisik kita sudah pasti menurun, tapi bukan berarti tidak bisa ditingkatkan. Kuncinya adalah memulai dengan perlahan tetapi selalu konsisten," kata dia.

Menurut dia, tidak ada masalah kesehatan yang perlu dikhawatirkan ketika Anda mulai berolahraga dengan tujuan yang cerdas dan strategis.

Khusus untuk STRONG Nation™ yang merupakan latihan HIIT intensitas tinggi, Anda harus memulai dengan gerakan berintensitas rendah. Ketika tubuh kita mulai terbiasa, intensitas bisa ditingkatkan, dan setelah daya tahan tubuh kembali kita bisa meningkatkan kapasitas kita dengan gerakan yang maksimal.

Hal senada juga diungkapkan penyanyi yang juga instruktur STRONG Nation™, Marcell Siahaan. Dia mengatakan, sepanjang bulan puasa, mengurangi intensitas rutinitas olahraga sangatlah penting. Tetapi sekarang, Anda harus mengubah tujuan transformasi tubuh dan mencapai target. "Namun, sangat penting untuk memulai dengan perlahan, dan beradaptasi dengan kemampuan tubuh kita saat ini. Bagi sebagian dari kita, memulai rutinitas dengan intensitas tinggi sangat sulit," kata dia.

Dia menuturkan, STRONG Nation™ bisa menjadi pilihan sebagai olahraga yang menyenangkan. STRONG Nation™ dirancang khusus dengan musik untuk menyelaraskan setiap gerakan dan membantu Anda meningkatkan kemampuan di setiap sesi. "Mari kita menjadi sehat dan bugar usai merayakan Ramadan. Kita bisa mencapai ini dengan memulai perlahan, 10-30 menit sesi STRONG Nation™ minimal tiga kali seminggu, dengan memilih intensitas yang sesuai dengan kebutuhan tubuh kita," kata Marcell.

Baca: Berapa Kali Sebaiknya Olahraga dalam Seminggu untuk Menurunkan Berat Badan?

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."