Studi: Inhaler untuk Asma Bisa Mengurangi Risiko Infeksi Parah Pasien Covid-19

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Seorang petugas medis yang mengenakan pakaian pelindung merawat seorang pasien di ruang isolasi untuk pasien yang terjangkit Virus Corona di Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta Timur, 13 Mei 2020. REUTERS/Willy Kurniawan

Seorang petugas medis yang mengenakan pakaian pelindung merawat seorang pasien di ruang isolasi untuk pasien yang terjangkit Virus Corona di Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta Timur, 13 Mei 2020. REUTERS/Willy Kurniawan

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Mengingat lonjakan kasus Covid-19 dan ancaman virus mutan ganda terhadap populasi umum, tidak mungkin untuk mengabaikan krisis saat ini. Ilmuwan dan profesional medis terus berupaya untuk mengatasi situasi ini, sementara pihak berwenang menekankan perlunya mengikuti semua protokol kesehatan di masa pandemi. Selama kurun waktu tersebut, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa inhaler medis yang digunakan oleh pasien asma dapat mengurangi replikasi SARS-CoV-2 di sel paru-paru dan membatasi risiko rawat inap pada pasien Covid-19.

Menurut studi Universitas Oxford di Inggris, obat yang biasa digunakan untuk mengobati asma, dapat membantu mempercepat proses pemulihan pada pasien Covid-19. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Lancet menemukan bahwa glukokortikoid inhalasi dapat mengurangi risiko Covid parah dan rawat inap di antara orang yang terinfeksi infeksi SARs-COV-2.

Demikian pula, penelitian sebelumnya dari Cina, Italia, dan negara lain menunjukkan bahwa pasien dengan asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) yang sama cenderung tidak dirawat di rumah sakit.

Lalu, dapatkah budesonide yang dihirup bantu periode pemulihan yang lebih singkat?

Studi Lancet melibatkan 146 peserta dari Inggris, setengah di antaranya diminta menggunakan inhaler dengan budesonide dan menerima perawatan Covid-19.
Tim peneliti menemukan bahwa budesonide yang dihirup, ketika diberikan dalam dosis yang diatur dan untuk waktu yang singkat, dapat efektif dalam mengobati Covid yang parah dan juga dapat memastikan periode pemulihan yang lebih singkat.

Selain itu, ditemukan bahwa durasi demam pada pasien Covid jauh lebih rendah pada kelompok yang menerima budesonide dibandingkan dengan mereka yang hanya terbatas pada kelompok perawatan biasa.

Pasien yang menerima budesonide inhalasi melaporkan lebih sedikit tanda-tanda gejala Covid-19 yang persisten setelah 14 hari. Laporan konklusif menunjukkan bahwa budesonide yang dihirup mengurangi kemungkinan rawat inap dan juga mengurangi risiko infeksi parah pada pasien Covid-19.

TIMES OF INDIA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."