Perubahan Iklim Bisa Berdampak pada Kesehatan Tubuh Manusia, Hubungannya?

Online Festival Beat Diabetes by Tropicana Slim pada 8 April 2021/Nutrifood

kesehatan

Perubahan Iklim Bisa Berdampak pada Kesehatan Tubuh Manusia, Hubungannya?

Kamis, 8 April 2021 00:22 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Perubahan iklim bisa menyebabkan terjadinya krisis iklim. Efek gas rumah kaca bisa menyebabkan peningkatan pada pemanasan global. Perubahan kondisi alam ini bisa berakibat pada kesehatan manusia. "Yang menjadi perhatian, pemanasan global saat ini melebihi dari rata-rata seharusnya yang menyebabkan adanya krisis iklim" kata Young Climate Champion juga Co-Founder heySTARTIC Vania Santoso pada Beat Diabetes Online Festival 2021 pada 7 April 2021.

Baca: Menjelang Hari Kesehatan Dunia, Intip Cara Jaga Jantung Sehat dengan Bersepeda

Dampak perubahan iklim berhubungan dengan kesehatan tubuh manusia. Secara umum, ada banyak hal antara perubahan iklim dengan kesehatan tubuh manusia. Secara tidak langsung, dampak perubahan iklim seperti peningkatan suhu yang tinngi dapat gaya hidup maupun persepsi seseorang. Selain itu juga dapat berdampak pada supply bahan pangan. "Secara tidak langsung, ketika perubahan iklim terjadi, suhu makin panas, bisa jadi berpengaruh terhadap supply pangan dan lain-lain. Ternyata ini mengubah persepsi atau gaya hidup seseorang itu dari awalnya bisa makan slow food jadi berubah makan instant, tidak sehat kemudian makan kemasan yang mungkin pilihan sehatnya lebih kurang" kata Pendiri Komunitas Sobat Diabet, Rudy Kurniawan dalam Beat Diabetes Online Festival - Learn From Sobat Diabet.

Pola hidup di daerah pun mengalami perbedaan akibat perubahan iklim yang menyebabkan gagal panen. Ketika para petani gagal panen, maka rantai makanan akan berubah. Akibatnya, asupan makanan atau pangan yang sehat bisa jadi susah didapat, harganya pun bisa lebih mahal. "Akhirnya, orang lebih memilih makanan cepat saji," kata Staf Divisi Endokrin, metabolik, dan Diabetes Departemen Penyakit Dalam RSCM - FKUI, Dicky Tahapary, dalam acara Beat Diabetes Online Festival dalam memperingati Hari Kesehatan Dunia dari Tropicana Slim.

Dicky Tahapary bercerita salah satu perubahan pola makan pernah terjadi di Flores. Biasanya, masyarakat di sana mengkonsumsi makanan yang tradisional. "Namun karena mereka gagal panen dan lain sebagainya, mereka berubah memakan mi instan, makanan yang diawetkan. Sejak itulah banyak penyakit-penyakit yang mulai timbul.

Secara langsung, dampak perubahan iklim bisa berpangruh pada sensivitas insulin tubuh. Dilansir Hellosehat.com, Mamalia pada umumnya memiliki brown fat untuk bertahan hidup dengan menghasilkan panas tubuh. Semakin rendah kadar brown fat atau lemak cokelat dalam tubuh, semakin besar tingkat diabates dan obesitasnya. "Jadi tubuh manusia itu ada brown fat ada white fat. Nah kalau brown fat ini semakin sedikit jumlahnya, ternyata berhubungan dengan sensitivitas insulin yang semakin sedikit juga. Sehingga resiko diabetes semakin naik," kata Rudy Kurniawan yang menilai hal itu perlu diteliti lebih lanjut.

Selain brown fat, meningkatnya suhu udara yang tinggi bisa menyebabkan konidisi heat stroke. Heat stroke adalah kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis hingga mencapai 40 derajat Celcius atau bahkan lebih. Heatstroke biasanya terjadi saat seseorang menerima paparan suhu panas dari lingkungan sekitar di luar batas toleransi tubuhnya, misalnya saat cuaca sedang sangat terik. Karena heatstroke merupakan kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan segera. Beberapa gejala orang yang mengalami heat stroke adalah mengalami pusing, sakit kepala, kulit memerah dan mengerih, hingga jantung berdebar kencang. "Kondisi heat stroke berpengaruh pada inflasi tubuh, secara berangsur-angsur juga menggangu sensifitas insulin." kata Rudy Kurniawan.

NATHASYA ESTRELLA