Vaksin COVID-19 Bisa Sebabkan Masalah Kesuburan? Ini Jawaban Dokter

Petugas kesehatan menyuntikan vaksin COVID-19 saat simulasi pelayanan vaksinasi di Puskesmas Kemaraya, Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat, 18 Desember 2020. Simulasi tersebut dilaksanakan agar petugas kesehatan mengetahui proses penyuntikan vaksinasi COVID-19 yang direncanakan pada Maret 2021. ANTARA FOTO/Jojon

kesehatan

Vaksin COVID-19 Bisa Sebabkan Masalah Kesuburan? Ini Jawaban Dokter

Minggu, 10 Januari 2021 18:50 WIB
Reporter : Antara Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Beragam kekhawatiran muncul di tengah masyarakat terkait efek samping vaksin COVID-19. Salah satu di antaranya adalah vaksin akan mempengaruhi kemampuan untuk memiliki anak atau mandul. Menanggapi hal itu, dokter dan ilmuwan mengatakan dugaan itu tidak benar.

Informasi menyesatkan seputar vaksin Covid-19 dan kesuburan mengklaim vaksin mengandung protein lonjakan atau disebut syncytin-1, yang terkait dengan fungsi plasenta atau organ yang berkembang selama kehamilan untuk memberikan oksigen dan nutrisi pada bayi. Informasi itu tidak benar karena protein lonjakan virus corona sama sekali tidak mirip dengan syncytin-1, begitu kata Michael Cackovic, dokter spesialis kandungan di Pusat Medis Wexner Universitas Ohio, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Shape.

Ia menegaskan tidak ada alasan untuk percaya memblokir syncytin-1 menyebabkan kemandulan dan hal senada diungkapkan pakar penyakit menular di Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh A. Adalja. Intinya, tidak ada bukti yang mendukung anggapan vaksin COVID-19 berdampak pada kesuburan.

Para ahli kesehatan dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) setuju mengenai hal tersebut. ACOG merekomendasikan vaksinasi bagi individu yang berusaha untuk hamil atau sedang mempertimbangkan untuk hamil dan memenuhi kriteria untuk vaksinasi. Anda tidak perlu menunda kehamilan setelah vaksin COVID-19.

Lebih lanjut, beberapa wanita yang berpartisipasi dalam uji klinis untuk dua vaksin (Pfizer dan Moderna) hamil selama percobaan dan tidak ada bukti ada masalah kesuburan.

Selama uji coba vaksin Moderna, 13 peserta hamil, dan selama uji coba vaksin Pfizer, terjadi 23 kehamilan. Sementara satu dari kelompok Pfizer mengalami keguguran, dan orang tersebut menerima plasebo, bukan vaksin.

Sementara itu William Schaffner, dokter spesialis penyakit menular di Sekolah kedokteran Universitas Vanderbilt, Amerika Serikat, mendesak wanita yang ingin hamil untuk mempertimbangkan risiko tidak mendapatkan vaksinasi, yang mencakup potensi penyakit parah dan persalinan prematur jika hamil.

Bila masih khawatir tentang bagaimana vaksin COVID-19 dapat mempengaruhi kesuburan di masa depan, Schaffner merekomendasikan untuk berbicara dengan dokter agar mendapatkan kepastian langsung dari penyedia medis, bukannya internet.

Ia menambahkan vaksin COVID-19, baik itu dari Pfizer maupun Moderna, menggunakan bahan genetik yang disebut mRNA, yang memicu respons imun dalam tubuh, dan sebagai hasilnya Anda mengembangkan antibodi terhadap virus. Tubuh kemudian menghilangkan protein bersama dengan mRNA, tetapi antibodi tetap ada.