Bella Hadid Cerita Penyakit Lyme yang Diidap Sejak Usia 14 Tahun

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Bella Hadid memperagakan koleksi busana dari rumah mode Max Mara dalam Milan Fashion Week di Italia, 20 Februari 2020. REUTERS/Alessandro Garofalo

Bella Hadid memperagakan koleksi busana dari rumah mode Max Mara dalam Milan Fashion Week di Italia, 20 Februari 2020. REUTERS/Alessandro Garofalo

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Bella Hadid berbagi cerita soal penyakit Lyme atau lyme disease yang dideritanya lewat unggahan Instagram Stories. Menurut adik Gigi Hadid ini, penyakit yang tidak terlihat itu menjadi beban untuk dirinya dari waktu ke waktu.

Model berusia 23 tahun itu mengatakan bahwa ia telah mengalami gejala terus menerus sejak usia 14 tahun, tetapi gejala tersebut mulai memburuk setelah berusia 18 tahun. Penyakit Lyme terkait memiliki kemungkinan gejala seperti sakit kepala, kelelahan, nyeri otot dan sendi, mati rasa, kram, demam, kepekaan terhadap cahaya, insomnia, kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, dan masalah memori.

"Setiap hari saya merasakan setidaknya 10 gejala tersebut... sejak saya mungkin berusia 14 tahun, tetapi lebih agresif ketika saya berusia 18 tahun," tulisnya.

Sebelumnya ia mengatakan minum obat setiap hari untuk mengobati penyakitnya, sekaligus berjuang untuk bangun dari tempat tidur. Ternyata penyakit itu juga menghambat kegiatan berkuda-nya. Sebabrasa sakit dan kelelahan membuatnya sulit untuk terus menunggang kuda, menurut laporan laman Elle.

Komplikasi dari penyakit Lyme tidak dipahami dengan baik, dan mungkin sulit untuk diobati  Istilah "penyakit Lyme kronis" telah digunakan untuk menggambarkan berbagai penyakit atau lebih terkait dengan infeksi yang mungkin atau dikonfirmasi dari gigitan kutu, Borrelia burgdorferibacteria. Hal itu terjadi ketika gejala bertahan selama enam bulan atau lebih setelah infeksi diobati dengan antibiotik.

Tetapi diagnosis terkadang kontroversial dalam komunitas medis, karena tidak ada definisi klinis atau penggunaan yang konsisten, sehingga istilah yang kerap digunakna adalah Sindrom Penyakit Lyme Pasca Perawatan (PTLDS), menurut Institut Nasional Penyakit Alergi dan Penyakit Menular (NIAID).

Melansir laman Insider, tidak jelas mengapa beberapa orang terus mengalami gejala, terkadang selama bertahun-tahun, setelah penyakit Lyme. Para ahli percaya itu mungkin terkait dengan respons sistem kekebalan terhadap infeksi atau infeksi yang berpotensi berkelanjutan yang tidak dapat dideteksi saat tes.

Dalam kedua kasus tersebut, pengobatannya sulit dan saat ini tidak ada obat yang terbukti dapat menyembuhkan PTLDS, meskipun antibiotik lanjutan terkadang membantu, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat atau CDC.

NIA PRATIWI

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."