Menilik 7 Mitos MPASI, dari Usia, Makanan Bertekstur, hingga Jus

Ilustrasi bayi makan MPASI (pixabay.com)

kesehatan

Menilik 7 Mitos MPASI, dari Usia, Makanan Bertekstur, hingga Jus

Kamis, 16 Juli 2020 10:30 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Beragam mitos soal Makanan Pendamping Air Susu Ibu atau MPASI yang beredar di masyarakat. Salah satunya terkait usia mulai MPASI. Idealnya bayi siap MPASI di usia 6 bulan jika merujuk penelitian dan standar Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

"Namun bukan usia saklek karena setiap bayi kan berbeda-beda kebutuhannya, jika ASI masih cukup maka MPASI bisa dimulai saat bayi usia 6 bulan," ucap Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi Yovita Ananta dalam Bincang Sore Instagram Live Healthy Kids Corner, Selasa 14 Juli 2020.

Mitos kedua terkait menu MPASI yang dimulai dari sayuran atau buah dan menunda pemberian protein hewani sampai bayi usia 8 bulan. Dulu memang bertahap karena khawatir bayi masih belum bisa menerima, tapi lama-kelamaan tidak terbukti.

"Jadi tidak perlu takut untuk memulai dengan protein hewani. Kalau pun mau bertahap jangan terlalu lama menunggu 8 atau 10 bulan, namun bisa pakai hitungan hari. Sebab manfaat protein bagus untuk sumber energi dan membangun sel-sel," tambah Yovita.

Yovita juga menyarankan untuk mengenalkan protein pada anak terlebih dahulu. Sayuran dan buah bisa untuk tahap selanjutnya. "Setelah protein tercukupi, maka semua sayur dan buah harus dicoba karena masing-masing punya kandungan yang berbeda. Jadi supaya mendapatkan asupan serat dan vitamin secara seimbang, selain itu agar anak juga bisa mengenal rasa," lanjutnya.

Mitos ketiga ialah jangan beri makan bertekstur jika bayi belum tumbuh gigi. Faktanya dalam proses MPASI bayi harus melalui proses mengunyah. Jadi tekstur jangan ditunda lama, kita bisa perhatikan bagaimana reflek bayi saat mengunyah walau belum tumbuh gigi. Jadi tidak masalah diberikan makanan bertekstur di usia bayi mulai 7-8 bulan.

"Tekstur lauk yang masih kasar bisa dicincang halus, awalnya bertahan di tekstur yang sama lalu naik terus. Nah usia 12 bulan bisa makan table food atau makanan dewasa," ujar Yovita. 

Mitos keempat ialah jus kerap dianggap bisa mengganti makanan utama. Faktanya, menurut Yovita jus tidak lengkap nutrisinya karena hanya dapat sedikit karbo, sementara protein dan lemak hampir tidak ada. 

"Lebih ke kebutuhan cairan, tapi tidak bisa mengganti kebutuhan makanan utama. Bukan tidak boleh tapi bisa untuk snack atau selingan. Kalau dalam jangka waktu lama nutrisinya tidak cukup," imbaunya.

Mitos kelima merasa sudah cukup memenuhi 4 bintang yang terdiri dari karbohirat, protein, lemak, serat, dan vitamin. Faktanya, semua sumber gizi masuk tapi komposisi utamanya tidak tepat. "Jadi komposisi meliputi setengah harus karbo sebagai energi utama, sepertiga protein dan lemak. Nabati juga boleh diberikan, sementara sayur jumlah tidak harus banyak hanya sebagai pelengkap. Lemak tambahan dipakai saat menumis bisa pakai minyak atau butter," terangnya.

Mitos keenam masih diberikan gula dan garam, apakah boleh? Yovita mengatakan bukan tidak boleh tapi kebutuhan untuk bayi sangat sedikit, jadi tidak dibiasakan makan manis dan asin. Rasa asin dan manis bisa dipenuhi dari sumber alami, misal natrium ada di ASI atau daging.

Mitos yang ketujuh adalah pemberian finger food (makanan yang bisa digenggam si Kecil untuk melatih pergerakan jari-jarinya) di awal MPASI. Yovita mengatakan jika finger food bisa dimulai sejak anak usia 6 bulan, tapi tidak dianjurkan di minggu pertama MPASI.

Pilihlah finger food yang tidak terlalu keras, tapi lumer di mulut misalnya buah atau tofu yang dikukus.

"Perhatikan juga ukuran jangan terlalu kecil agar menghindari tersedak. Kukus sampai empuk tapi masih bisa dipegang dan gampang hancur jika dikunyah," pungkasnya. 

EKA WAHYU PRAMITA