Virus Corona Menular lewat Udara, Lebih Sering Buka Jendela Rumah

Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

kesehatan

Virus Corona Menular lewat Udara, Lebih Sering Buka Jendela Rumah

Senin, 13 Juli 2020 21:40 WIB
Reporter : Antara Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengimbau masyarakat untuk semakin lebih waspada namun tidak panik menyusul laporan terkait kemungkinan risiko transmisi virus corona baru penyebab Covid-19 melalui udara (airborne) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Dengan terdapatnya risiko penularan secara airborne, terutama pada ruangan tertutup, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengimbau masyarakat tetap waspada dan tidak panik," ujar Ketua Pengurus Harian PDPI dokter Agus Dwi Susanto.

Selain mengimbau masyarakat untuk tidak panik, Agus juga mengajak masyarakat menghindari keramaian, baik di tempat tertutup maupun di terbuka. Kemudian, masyarakat juga disarankan untuk selalu memakai masker di mana saja dan kapan saja, bahkan ketika berada di dalam ruangan.

Selain itu, PDPI juga mendorong terciptanya ruangan dengan ventilasi yang baik, dengan jendela yang dibuka sesering mungkin. Tak lupa, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kebersihan tangan, menghindari menyentuh wajah sebelum mencuci tangan, dan tetap menjaga jarak pada aktivitas sehari-hari.

Menurut dokter Agus, pada 9 Juli 2020 WHO mengeluarkan panduan terbaru terkait transmisi virus corona baru yang memiliki perbedaan signifikan antara penularan melalui airbone dan droplet.

Menurut laporan itu, penularan Covid-19 melalui airborne dapat mencapai jarak hingga lebih dari 1 meter dan dapat bertahan lama di udara. Sementara itu, penularan melalui droplet bisa terjadi dalam jarak kurang dari 1 meter dan tidak bertahan lama di udara.

Risiko tersebut, katanya, tentu sangat berimplikasi terhadap cara pencegahan dan pengendalian terhadap Covid-19 karena transmisi airborne dan droplet sangat berbeda. Selain itu, penelitian dilakukan di lingkungan fasilitas kesehatan tempat pasien Covid-19 dirawat, tetapi tidak dilakukan prosedur yang menghasilkan aerosol, melaporkan keberadaan RNA SARS-CoV-2 pada sampel udara.

Namun, pada penelitian lain yang sama, baik di fasilitas kesehatan maupun nonfasilitas kesehatan, tidak ditemukan keberadaan RNA SARSCoV-2. Dalam sampel yang ditemukan virus, kuantitas virus yang terdeteksi dalam jumlah yang sangat kecil dalam volume udara yang besar dan satu studi menemukan virus tersebut di sampel udara dalam kondisi virus yang belum bisa bereplikasi.