Keliru Jika Orang Tua Berpikir Anak Main Ponsel Jadi Kurang Gaul

Ilustrasi anak main ponsel pintar. (Shutterstock.com)

kesehatan

Keliru Jika Orang Tua Berpikir Anak Main Ponsel Jadi Kurang Gaul

Kamis, 7 Mei 2020 07:24 WIB
Reporter : Praga Utama Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Orang tua khawatir ketika anak mulai kecanduan bermain ponsel. Salah satu kekhawatiran terbesar mereka adalah anak jadi kurang bergaul bahkan sampai tak punya teman.

Sejatinya bukan itu kekhawatir terbesar orang tua yang anaknya kecanduan ponsel. Penelitian di Ohio State University, Columbus, Amerika Serikat, menunjukkan orang tua tak perlu gelisah melihat anak-anak mereka keseringan bermain ponsel.

Musababnya, para ahli mengatakan penggunaan ponsel pintar tidak akan mengurangi kemampuan bersosialisasi anak-anak. "Meski anak-anak zaman sekarang lebih sering memakai ponsel dan bermain media sosial, kemampuan sosial mereka tetap sama dengan anak-anak generasi terdahulu," demikian kesimpulan penelitian yang dirilis dalam American Journal of Sociology pada Januari 2020.

Dalam penelitian ini, para ahli menganalisis data dari program Early Childhood Longitudinal Study (ECLS) yang mengamati anak-anak sejak taman kanak-kanak (TK) hingga kelas V sekolah dasar di Amerika Serikat pada 1998 dan 2010. Para peneliti membandingkan informasi tentang kelompok TK ECLS yang mencakup anak-anak yang masuk sekolah pada 1998 (sebanyak 19.150 siswa) dengan yang masuk sekolah pada 2010 (sebanyak 13.400 siswa). Anak-anak dinilai oleh orang tua sejak TK hingga kelas I, dan oleh guru hingga kelas V.

Dalam perbandingan itu, terlihat anak-anak TK generasi tahun 2010 justru mendapatkan skor yang sedikit lebih baik dalam hal keterampilan sosial. Peneliti menemukan bahwa dari perspektif guru, keterampilan sosial siswa tidak menurun pada kelompok 1998 dan 2010. Pola serupa bertahan saat anak-anak naik ke kelas V. Bahkan anak-anak dalam kedua kelompok yang mengalami paparan terberat ponsel pintar menunjukkan perkembangan yang sama dalam hal keterampilan sosial dibanding mereka yang lebih sedikit terpapar.

"Secara keseluruhan, kami menemukan sangat sedikit bukti bahwa waktu yang dihabiskan di layar ponsel akan merusak keterampilan sosial pada sebagian besar anak-anak," kata Douglas Downey, penulis utama studi dan profesor sosiologi di The Ohio State University, seperti dikutip dari Healthline.

Ilustasi anak dan orang tua bermain gadget. indiatimes.in

Hanya saja, Douglas menambahkan, perlu diingat bahwa penelitian ini difokuskan pada anak-anak usia 5 tahun ke atas. Hasil riset tersebut, menurut dia, tak berlaku untuk anak-anak dengan usia lebih muda.

Dalam penelitian terpisah yang dirilis JAMA Pediatrics sebelumnya, penggunaan gadget seperti ponsel pintar yang terlalu sering pada anak-anak usia 1 tahun akan meningkatkan risiko autisme. Studi ini menggunakan data dari 2.152 anak-anak yang menyimpulkan bahwa lebih banyak waktu yang dihabiskan di depan layar pada usia 1 tahun dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala, seperti gangguan spektrum autisme.

Penelaahan data dilakukan menggunakan tes autisme yang disebut Daftar Modifikasi untuk Autisme pada Balita (M-CHAT). Tes itu mengandalkan 20 pertanyaan mengenai perilaku anak. Para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Drexel dan Sekolah Kesehatan Masyarakat Dornsife menyimpulkan bahwa mendudukkan bayi di depan layar serta waktu bermain orang tua-anak yang lebih sedikit berdampak pada pengembangan gejala, seperti gangguan spektrum autisme pada masa kanak-kanak.

Hal lain yang perlu diperhatikan para orang tua adalah, meski penggunaan ponsel tak mengganggu kemampuan bersosialisasi anak-anak, para ahli lain mengatakan paparan sinar biru yang dipancarkan layar perangkat digital dapat mengurangi jumlah dan kualitas tidur.

"Kebanyakan bermain ponsel, terutama pada jam-jam malam, terlebih lagi sebelum tidur, buruk untuk tidur semua orang," ujar Dr Alex Dimitriu, psikiater dan ahli gangguan tidur dari Menlo Park Psychiatry & Sleep Medicine. "Cahaya biru dari layar akan mengurangi zat melatonin dan mengurangi kualitas tidur nyenyak yang dibutuhkan otak kita."

Dimitriu juga menjelaskan, interaktivitas perangkat digital dapat membuat orang berselancar Internet sampai larut malam, sementara saat membaca buku, Anda bisa cepat tertidur. Hal ini, kata dia, terjadi karena kecerahan dan stimulasi layar perangkat digital sebenarnya mencegah Anda tertidur, sekaligus mengurangi kualitas tidur.

"Tidur yang buruk pada anak-anak telah dikaitkan dengan gejala ADHD (attention deficit hyperactivity disorder), sifat lekas marah, kecemasan, dan kontrol impuls yang buruk, di samping mungkin membatasi pertumbuhan dan perkembangan otak."

PRAGA UTAMA | HEALTHLINE