Tips Meredakan Kecemasan di Tengah Wabah Corona

Ilustrasi wanita bekerja di rumah. shutterstock.com

kesehatan

Tips Meredakan Kecemasan di Tengah Wabah Corona

Minggu, 12 April 2020 07:57 WIB
Reporter : Praga Utama Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Hampir sebulan bekerja dari rumah atau WFH karena wabah corona mungkin sudah terasa begitu membosankan. Bahkan bagi sebagian orang, kondisi ini membawa kecemasan sehingga mereka tak konsentrasi saat bekerja, enggan melakukan aktivitas, dan emosi yang labil.

Psikolog Doreen Marshall mengatakan kondisi itu wajar dialami oleh orang yang sedang menghadapi wabah. "Kita semua menghadapi kondisi baru yang serba tidak pasti, wajar jika orang lebih rentan mengalami stres, kecemasan, bahkan depresi," kata Marshal yang juga Wakil Presiden American Foundation for Suicide Prevention (Yayasan Pencegahan Bunuh Diri Amerika Serikat) di halaman situs AFSP, pertengahan Maret 2020.

Pada dasarnya, menurut dia, manusia menyukai kepastian. Manusia terprogram untuk ingin tahu apa yang terjadi dan memperhatikan hal-hal yang terasa mengancam. "Wabah corona membuat kita tidak berdaya dan tidak yakin tentang apa yang akan terjadi atau apa yang dapat kita lakukan," kata dia.

Jika berlarut-larut, kondisi ini akan membuat orang merasa lebih tertekan dan kurang termotivasi melakukan kegiatan sehari-hari. Untuk mengatasinya, Marshall menyarankan setiap orang fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan dalam keseharian, misalnya soal makanan dan pakaian.

Bagi kalangan pekerja yang menjalani rutinitas kantor dari rumah, Doreen menyarankan tetap berperilaku layaknya berada di kantor. Misalnya, menggunakan pakaian kantor seperti biasanya. Hal ini akan membantu meningkatkan fokus dan merasa profesional.

"Terutama jika harus menghadiri rapat daring melalui telekonferensi," kata dia. Agar lebih mendukung, para pelaku work from home juga disarankan menciptakan suasana seperti di ruang kantor. Misalnya dengan menyalakan radio atau mendengarkan podcast. Setidaknya hal ini dapat membuat rumah Anda terasa lebih hidup dan mirip suasana kantor.

Keleluasaan waktu ketika bekerja dari rumah juga bisa dimanfaatkan sebagai momentum untuk menjernihkan pikiran dan menenangkan tubuh. "Yoga, meditasi, dan latihan pernapasan sambil mengatur konsentrasi tak hanya dapat meredakan stres, tapi juga membantu pikiran dalam menghadapi situasi yang serba tidak pasti," kata psikolog Seth J. Gillihan, seperti dikutip dari Payscale. Seth menyarankan memanfaatkan video-video pelatihan yoga dan meditasi yang banyak terdapat di Internet.

Hal lain yang bisa dilakukan untuk meredakan kecemasan selama masa pembatasan sosial adalah memasak. "Kondisi penuh tekanan bisa membuat kita mudah tergoda mengkonsumsi makanan cepat saji dan junk food yang tidak sehat," kata penulis Psychology Today, Hara Estroff.

Saat kita sedang merasa tertekan, menurut Estroff, tubuh memang menghabiskan energi lebih banyak. Hal ini membuat kita merasa ingin mengkonsumsi lebih banyak makanan sarat lemak dan gula. Ketimbang mengikuti keinginan itu, Estroff menyarankan agar mencoba memasak makanan sehat dan baik untuk tubuh Anda.

"Diet sehat dapat membantu melawan dampak stres dengan menopang sistem kekebalan tubuh dan menurunkan tekanan darah," ujarnya. Memasak makanan sendiri juga dapat membuat pikiran lebih rileks. Dengan waktu luang yang lebih banyak, Estroff menyarankan agar kita mulai mencoba resep-resep masakan rumah atau belajar membuat roti dan kue-kue.

Cara selanjutnya untuk menjaga kesehatan mental selama masa pandemi ini adalah mengurangi konsumsi media sosial. Hal ini disarankan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dalam unggahan di situs mereka pada awal April lalu. "Beristirahatlah dari menonton, membaca, atau mendengarkan berita, termasuk media sosial," demikian mereka menulis. "Mendengar berita tentang pandemi secara terus-menerus bisa membuat kesal."

Jika pembatasan akses dirasa kurang maksimal, CDC bahkan menyarankan agar aneka aplikasi media sosial untuk sementara dihapus dari ponsel agar kita tak mudah mengaksesnya.

PAYSCALE | AFSP | PSYCHOLOGY TODAY