Selain Physical Distancing, 5 Cara Ini Bisa Akhiri Pandemi Corona

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Penumpang duduk di bangku yang telah diberi stiker panduan jarak antarpenumpang di rangkaian gerbong kereta MRT, Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020. Sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus Corona atau COVID-19, pemerintah telah memberikan arahan kepada seluruh masyarakat untuk mulai menerapkan praktik

Penumpang duduk di bangku yang telah diberi stiker panduan jarak antarpenumpang di rangkaian gerbong kereta MRT, Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020. Sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus Corona atau COVID-19, pemerintah telah memberikan arahan kepada seluruh masyarakat untuk mulai menerapkan praktik "social distancing" atau menjaga jarak sosial dalam kegiatan sehari-hari. ANTARA

IKLAN

CANTIKA.COM, JAKARTA - Sudah 1 bulan 5 hari tenaga medis, masyakarat, dan pemerintah berjuang melawan virus corona baru atau COVID-19 terhitung dari pengumuman pasien pertama dan kedua positif corona pada 2 Maret 2020. Dengan segala upaya bersama, kita berupaya menghentikan meluasnya penyebaran COVID-19 agar bisa beraktivitas seperti semula.

Menurut para pakar di sejumlah kampus negeri di Indonesia seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Sebelas Maret (UNS) memprediksi dengan model perhitungan yang berbeda-beda, virus corona akan berakhir pada Mei hingga Juni. 

Tapi prediksi itu bisa berubah lebih cepat, jika kita sama-sama disiplin menjalankan imbauan pemerintah untuk melindungi diri dari paparan virus corona, seperti beraktivitas di rumah saja, rajin cuci tangan, dan menjaga kebersihan benda-benda di sekitar kita dengan disinfektan. 

Tak hanyat itu, ada pula sejumlah cara yang memungkinkan agar pandemi corona bisa berakhir melansir laman The Hill dan Live Science

1. Melalui pembendungan atau containment

Skenario ini seharusnya dijalankan saat infeksi corona masih terbatas pada wilayah asalnya. Apabila kasus Covid-19 bisa diketahui dengan cepat sejak awal, kebijakan containment bisa dilakukan sehingga tak menginfeksi masyarakat di daerah lain.

2. Physical distancing

Skenario lain untuk mengakhiri pandemi corona adalah kerjasama masyarakat dan pemerintah melalui physical distancing atau jaga jarak fisik. Cara ini mungkin tengah kita terapkan, termasuk dengan beraktivitas  di rumah dan menjaga jarak sejauh mungkin dari orang lain. Cara ini juga bisa membantu rumah sakit untuk fokus menangani pasien yang sudah terinfeksi virus corona.

3. Virus tak lagi memiliki calon inang untuk diinfeksi

Menurut ahli epidemiologi New York University, Joshua Hopkin, kasus Covid-19 juga bisa menurun apabila virus kehabisan orang yang rentan untuk terinfeksi. Namun, skenario ini mungkin bisa cepat selesai pada populasi yang kecil. Untuk daerah berpenduduk besar butuh waktu lama untuk keberhasilannya.

4. Pandemi berubah menjadi endemi

Endemi artinya penyakit yang menyerang populasi pada laju konstan, namun jumlah kasusnya cukup tinggi. Pandemi corona yang bersifat global mungkin bisa berakhir apabila infeksi virus SARS-CoV-2 menjadi endemik untuk masyarakat. Artinya, Covid-19 yang dipicu virus ini sama seperti flu musiman, yang datang sekali setahun.

5. Dibantu oleh perubahan cuaca

Ada potensi bahwa pandemi corona secara alami bisa menurun karena faktor alam. Misalnya, cuaca yang yang lebih hangat bisa memengaruhi virus penyebab flu dan jenis virus corona lain. Ada harapan bahwa virus corona juga mungkin tak bertahan di suhu panas, namun spekulasi ini belum bisa terbukti secara ilmiah.

 6. Adanya obat antivirus dan terapi lain untuk tangani Covid-19

Sama-sama kita berharap jenis obat antivirus yang bisa mengatasi infeksi SARS-CoV-2 segera dihasilkan. Hingga saat ini, para peneliti tengah menguji 10 jenis obat yang nantinya dapat digunakan untuk mengatasi infeksi Covid-19. Untuk menemukannya dibutuhkan uji klinis untuk memastikan keamanan dan efektivitas suatu obat pada tubuh manusia.

SEHATQ

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."