Andrea Dian Idap Autoimun dan Positif Corona, Apa Penanganannya?

Dalam keterangan foto yang diunggah Andrea Dian, ia juga mengaku bahwa ia mengalami autoimun, kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuh sendiri. instagram.com/andreadianbimo

kesehatan

Andrea Dian Idap Autoimun dan Positif Corona, Apa Penanganannya?

Senin, 23 Maret 2020 09:05 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Sama seperti aktor Detri Warmanto, aktris Andrea Dian mengabarkan dirinya positif corona baru atau COVID-19 lewat unggahan Instagram. Bedanya, Detri menjalani isolasi diri di rumah, sementara Andrea Dian dirawat di rumah sakit.

Awalnya, aktris 34 tahun itu merasakan demam pada 13 Maret 2020 dan didiagnosis demam berdarah. Seketika itu ia menjalani perawatan di rumah sakit. Berselang dua hari, ia mulai merasakan badannya segar.

Saat itu, ia diminta mengecek thorax dan influenza, hasilnya bagus. Namun saat melakukan pemeriksaan paru-paru, dokter menemukan ada flek di kanan dan kiri. Lalu pada 16 Maret 2020, istri Ganindra Bimo ini melakukan cek swab atau pengecekan sel pada hidung dan tenggorokan untuk mengetahui apakah ia terinfeksi virus corona.

"Baru pada 18 Maret 2020, aku dikasih kabar kalau aku positif Covid-19," tulisnya di Instagram pada Ahad, 22 Maret 2020. "Aku punya kondisi autoimun yang membuat aku punya tuntutan tertentu untuk menjaga kondisi imunku."

Melansir laman NPR, virus corona sangat berbahaya bagi penderita kanker, HIV / AIDS, dan penyakit autoimun. Paul yang Volberding yang mengarahkan Lembaga Penelitian AIDS di Universitas California, San Francisco, Amerika Serikat mengatakan ada sejumlah cara agar bagian dari sistem kekebalan tubuh menjadi rusak. Selain kanker dan HIV/AIDS, kemoterapi, penuaan, dan obat-obatan juga bisa membuat sistem kekebalan tubuh rusak.

Dalam unggahan tersebut, Andrea bercerita kronologi saat akhirnya ia dinyatakan positif Corona. Istri presenter Ganindra Bimo itu awalnya mengalami demam pada 13 Maret dan dinyatakan mengidap demam berdarah. Setelah mulai merasa fit dan merasa khawatir, ia melakukan cek thorax dan influenza pada 15 Maret. Dari kedua tes tersebut hasilnya bagus, namun saat scan paru-paru, terdapat flek di kanan dan kiri paru-paru Andrea. instagram.com/andreadianbimo

"Ada banyak orang yang menerima obat-obatan yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh," kata Volberding, "dan mungkin beberapa dari mereka bahkan tidak secara jujur tahu bahwa mereka sedang dikompromikan dengan sistem kekebalan tubuh." Jenis obat ini umum untuk penderita psoriasis, penyakit Crohn, asma, dan rheumatoid arthritis.

Volberding mengatakan penting untuk memperhatikan bagian populasi ini. "Menjadi immunocompromised mungkin tidak terlalu meningkatkan kemungkinan Anda terinfeksi dengan sesuatu seperti COVID-19," katanya, "tetapi itu mungkin membuat hasil dari infeksi itu jauh lebih buruk."

Penyakit autoimun seperti rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematosus, penyakit Addison, penyakit celiac, multiple sclerosis, anemia pernicious, dan psoriasis, meningkatkan risiko berkembangnya komplikasi serius yang mematikan akibat infeksi corona.

Penyakit autoimun lain yang termasuk dalam daftar adalah tiroiditis Hashimoto, autoimun vasculitis, diabetes tipe 1, penyakit Graves, miastenia gravis, penyakit radang usus, dan sindrom Sjogren.

Penyakit autoimun adalah kondisi medis yang unik di mana sistem kekebalan tubuh Anda menyerang tubuh Anda, seperti dilansir dari laman IB Times. Biasanya, sistem kekebalan tubuh Anda akan melindungi tubuh dari virus dan bakteri.

Bila Anda menderita penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh keliru melihat bagian tubuh normal sebagai sel asing. Kesalahan identifikasi ini menyebabkannya melepaskan autoantibodi, yang kemudian menyerang sel-sel sehat. Inilah sebabnya mengapa pasien dengan penyakit autoimun berisiko lebih tinggi terinfeksi corona dan mengembangkan komplikasi yang lebih serius.

Seringkali, pasien dengan penyakit autoimun diobati dengan obat imunosupresan. Walaupun ini dapat membantu pasien mengatasi penyakit kronis, ini juga meningkatkan risiko infeksi corona.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC menyarankan jika berisiko lebih tinggi untuk komplikasi COVID-19 karena usia atau karena Anda memiliki kondisi medis yang mendasarinya, sangat penting untuk mengambil tindakan untuk mengurangi risiko penularan.

Michael George, MD, seorang ahli reumatologi dan epidemiologi yang mempelajari infeksi pada pasien dengan penyakit autoimun, harus mengikuti panduan baru ini. "Semakin berisiko Anda, semakin Anda harus mempertimbangkan rekomendasi ini," ujarnya. “Setiap orang harus mengikuti tindakan pencegahan umum seperti mencuci tangan, tidak menyentuh wajah, mata, hidung, atau mulut Anda."

EKA WAHYU PRAMITA