Akun Dari Halte ke Halte, Rekomendasi Kuliner Istimewa Kaki Lima

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rini Kustiani

google-image
Warga menikmati jajanan yang disajikan oleh sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di kolong jembatan (flyover) Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, 13 Mei 2015. TEMPO/Subekti

Warga menikmati jajanan yang disajikan oleh sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di kolong jembatan (flyover) Slipi, Palmerah, Jakarta Barat, 13 Mei 2015. TEMPO/Subekti

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Jika di Indonesia ada penghargaan untuk akun media sosial yang memberikan manfaat besar kepada masyarakat, akun Dari Halte ke Halte di Instagram dan Twitter mungkin layak masuk daftar nominasi. Musababnya, berkat akun ini, banyak sekali usaha kuliner kelas kaki lima, kedai sederhana, dan kafe-kafe kecil di Jakarta dan Sekitarnya yang naik daun dan jadi ramai pengunjung.

Para pencinta kuliner di Ibu Kota pun mendapat asupan informasi tentang tempat jajan murah dan enak yang jarang diketahui orang banyak. Nama-nama pedagang jajanan jalanan (street food), seperti Dimsum Arsyif di dekat Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat; pecel Boma di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan; bakwan Pontianak di dekat mal Grand Indonesia; Bebek Cak Malik di Thamrin; sampai aneka jajanan di kawasan kuliner pecinan Jalan Krendang, Jakarta Barat, kini sering disebut netizen dalam caption Instagram, cuitan di Twitter, hingga video-video di YouTube. Pembeli mereka pun selalu membeludak.

Semuanya dimulai dari inisiatif Bowo, sang penggagas Instagram dan Twitter Dari Halte ke Halte (DHKH). Tepat pada awal Maret 2019, ia membuat akun media sosial Dari Halte ke Halte untuk mengulas dan mempromosikan makanan enak yang berlokasi di sekitar stasiun kereta, moda raya terpadu (MRT), atau halte bus Transjakarta. Namun tak semua jenis usaha kuliner ia ulas.

"Saya hanya memilih kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah, sekalian membantu mereka berpromosi," ujarnya. Tak perlu waktu lama, Dari Halte ke Halte pun populer. Pengikutnya terus menanjak hingga sekarang mencapai hampir 64 ribu akun, baik di Instagram maupun Twitter.

Awalnya Bowo berburu tempat makan enak dan mengulasnya seorang diri. Setiap kali mengulas pun ia tak pernah memberi tahu pemilik warung atau kedai yang didatangi. "Jika layak, baru saya unggah di akun DHKH." Apa yang dilakukan Bowo itu menarik minat para pengikutnya. Mereka pun kerap memberikan rekomendasi jajanan enak yang mereka temukan di berbagai tempat. "Beberapa rekomendasi dari follower saya datangi, ternyata memang enak-enak."

Antusiasme para pencinta makanan ini pun membesar. Mereka meminta Bowo mengadakan acara ngider bareng —istilah yang mereka gunakan setiap kali jalan-jalan berburu kuliner. Bowo pun membuat semacam acara 'kopi darat' dengan para pengikut DHKH pada April 2019. Tujuannya, menjelajahi tempat jajan enak di sekitar Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Acara semacam ini diminati banyak orang. Para pengikut Dari Halte ke Halte yang lain pun ingin mengikuti acara serupa. Namun karena Bowo tak meniatkan Dari Halte ke Halte menjadi semacam tour guide, ia pun membuat komunitas para pengikut Dari Halte ke Halte.

Komunitas ini dibentuk melalui grup percakapan di aplikasi WhatsApp dan Telegram. Jumlah pesertanya 200 orang di WhatsApp dan 2.000 orang lebih di Telegram. Salah satu anggota komunitas yang aktif dan sering mengadakan acara ngider bareng adalah Asih Nursita Anggraini. Menurut karyawan swasta yang berkantor di daerah Kelapa Gading ini, gara-gara Dari Halte ke Halte, ia mendapatkan banyak hal baru: informasi makanan enak di seluruh Jabodetabek, teman-teman baru, sampai tambahan pemasukan. "Saya sering menyediakan jasa titip Dimsum Arsyif untuk teman-teman di kantor."

Menurut Nursita, kini hampir setiap akhir pekan dia bersama anggota grup WhatsApp Dari Halte ke Halte janjian untuk jajan bareng. "Biasanya kita sengaja mencari tempat kuliner baru, sekalian untuk rekomendasi teman-teman," ujarnya.

Kegiatan itu membuat kegiatan akhir pekannya tak melulu nongkrong di mal. "Lebih seru begini, jalan-jalan naik transportasi umum, mencari makanan enak." Sama seperti Bowo, Nursita pun sering membagikan rekomendasi jajanan kepada teman-temannya yang tidak mengikuti akun Dari Halte ke Halte.

Kehadiran akun Dari Halte ke Halte, menurut Nursita sangat bermanfaat bagi orang-orang seperti dia yang gemar berwisata kuliner. Apalagi mereka sering menemukan 'mutiara tersembunyi' kuliner, seperti mi tarempa khas Riau di Jakarta. "Kita jadi tahu ternyata di Jakarta ada banyak penjual makanan khas daerah lain," tutur Nursita.

Dia juga menyaksikan sendiri para pemilik kedai kebanjiran pembeli berkat ulasan Dari Halte ke Halte. "Dimsum Arsyif itu penikmatnya sekarang bukan hanya orang Jakarta." Menurut Ana, karena dekat stasiun kereta bandara, orang-orang yang hendak ke luar kota sering singgah untuk membeli dimsum sebagai oleh-oleh. "Kalau telat sedikit, antreannya bisa panjang banget."

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."