Manfaat Cuti Ayah bagi Ibu Baru Melahirkan Bisa Cegah Baby Blues

PM Jepang Shinzo Abe bersama Shinjiro Koizumi, anak laki-laki mantan PM Jepang Junichiro Koizumi. [THE STRAITS TIMES]

keluarga

Manfaat Cuti Ayah bagi Ibu Baru Melahirkan Bisa Cegah Baby Blues

Kamis, 23 Januari 2020 09:30 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup Jepang, Shinjiro Koizumi tengah mendapat sorotan dari publik setelah dirinya mengumumkan kelahiran putranya. Pasalnya, Shnjiro menjadi pejabat pemerintah pertama yang mengambil cuti ayah.

Cuti ayah atau cuti paternitas merupakan waktu libur seorang ayah yang bisa diambil istri usai melahirkan. Cuti jenis ini termasuk yang tidak mendapatkan gaji. Di Indonesia ada perusahaan yang telah memberlakukan cuti ayah sejak tahun 2017, yaitu Opal Communication. 

Pendiri Opal Communication, Kokok Dirgantoro mengatakan pihaknya telah menerapkan cuti ayah untuk karyawan laki-laki berdasarkan dari pengalaman istrinya saat melahirkan. Tak hanya untuk ayah, Kokok juga memberikan cuti untuk karyawan perempuan yang hamil selama 6 bulan.

"Selama ini sudah ada dua karyawan laki-laki yang mendapatkan cuti ayah, rencana tahun ini kemungkinan satu orang," ucap Kokok saat dihubungi Tempo.co, Selasa 21 Januari 2020.

Menurut alumnus Universitas Brawijaya ini, pengaruhnya sangat bagus secara kualitatif, istri dan suami bahagia. Terlebih suami juga lebih bisa merasakan beban istri setelah melahirkan dan memiliki kontribusi lebih. Keuntungannya tidak hanya untuk ayah tapi juga ibu, khususnya secara psikologis relatif lebih tenang karena suami siaga di dekatnya.

"Selama masa cuti, ayah bisa mengambil alih tugas cuci baju, setrika, hingga memasak yang sederhana. Bisa memijat sederhana untuk membantu kenyamanan istri, dan bantu ganti popok dan menimang anak saat malam dan istri istirahat," ujarnya. 

Lalu apa manfaat cuti ayah bagi ibu baru melahirkan? Hasil studi dari Universitas Stanford seperti yang dilansir dari laman Euronews, Selasa 21 Januari 2020 menyebutkan jika cuti ayah bisa berpengaruh bagi kesehatan fisik dan mental ibu.

Melihat ke data administratif para peneliti melihat bahwa, setelah kebijakan cuti ayah dilaksanakan, ada 11 persen penurunan antibiotik prescription dan 26 persen pengurangan resep obat anti-kecemasan untuk ibu dalam enam bulan pertama. 

Terdapat juga penurunan 14 persen dalam rawat inap atau kunjungan ke spesialis. Penurunan obat anti-kecemasan, khususnya, terutama terlihat dalam tiga bulan pertama setelah melahirkan.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa efek pada kesehatan lebih besar untuk ibu dengan riwayat medis pra-kelahiran, yang mungkin sangat rentan pada bulan-bulan setelah melahirkan. Termasuk gejala post partum depression atau baby blues syndrom.

Dengan adanya cuti ayah bisa membiarkan ibu lebih banyak waktu untuk beristirahat, tidur yang sangat dibutuhkan atau tidak meremehkan gejala medis mereka. Kehadiran sang ayah meringankan beban di pundak mereka untuk beberapa hari.

EKA WAHYU PRAMITA