Pengidap Bipolar yang Masih Menyusui Dianjurkan Tak Makan Obat, Ini Pertimbangan Dokter

Ilustrasi menyusui. SpineUniverse

kesehatan

Pengidap Bipolar yang Masih Menyusui Dianjurkan Tak Makan Obat, Ini Pertimbangan Dokter

Senin, 6 Januari 2020 11:15 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Baru-baru ini figur publik, Medina Zein mengungkapkan bahwa ia mengalami gangguan bipolar. Wanita berusia 27 tahun itu  mengonsumsi obat-obatan untuk pengidap bipolar atas izin dokter. Obatnya itu diduga membuat ia positif narkoba saat melakukan tes urine. Kini, ia harus menjalani rehabilitasi selama tiga bulan di Lembaga Pendidikan Polri, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. 

Seorang penyintas bipolar menunjukkan dua gejala yang ekstrem, yaitu gangguan emosi dalam episode manic dan episode depressive. Menurut Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dr. Laurentius Panggabean, Sp.KJ tanda depresi antara lain perasaan sedih dan menangis tanpa sebab yang jelas, merasa diri tidak berguna, malas makan atau sebaliknya banyak makan, berat badan meningkat atau sebaliknya menurun. Susah tidur atau mengantuk.

Pada manic, perasaan sebaliknya, merasa mampu, harga diri yang tinggi, mudah tersinggung, emosional hingga tidak jarang membanting barang. Bahkan boros dan membelanjakan uang, serta melakukan perjanjian atau tindakan yang berisiko.

"Gejala manik seperti disebutkan di atas dapat dikenali dari awal, baik oleh keluarga maupun pasien sendiri. Ketika pasien sudah pulih dibangun komitmen apa yang menjadi penanda awal sebagai tanda menuju perubahan uang lebih berat," ucap dr. Laurentius kepada Tempo, Sabtu 4 Januari 2020.

Dr. Laurentius mengatakan terdapat beberapa jenis obat bagi pengidap gangguan bipolar dan ada beberapa yang dipertimbangkan penggunaannya oleh dokter. Jenis obat tertentu bisa digunakan bersama obat lain sesuai dengan pertimbangan dokter.

Pada kondisi manik seandainya pengidap telah menggunakan anti-depresi maka obatnya diturunkan atau dihentikan dan digunakan obat yang bisa memperbaiki mood. Penggunaan obat adalah untuk memperbaiki keluhan pasien, yang depresi bisa mendapatkan keceriaannya kembali, sedangkan yang manik membaik perasaannya.

"Namun jika masih menyusui atau hamil dianjurkan untuk tidak diberikan. Karena kemungkinan zat yang ada dalam obat bisa terdapat pada Air Susu Ibu atau ASI yang akan mempengaruhi pertumbuhan janin atau bayi. Jadi memang pilihannya sulit apakah mempertimbangkan manfaat obat pada ibu atau menghentikan pemberian ASI," jelas ia.

Perhatikan juga apakah pasien lupa atau tidak rutin minum obat. Bagi seseorang yang baru mengalami gangguan bipolar, sebagai indikator mungkin dapat melihat atau merasakan perubahan perilaku. 

"Perubahan perilaku apakah bukan gangguan dilihat dari lamanya. Kalau bukan gangguan terjadi hanya dalam beberapa waktu sedangkan gangguan dialami dalam waktu dua minggu atau lebih," tukas dr. Laurentius.

EKA WAHYU PRAMITA