Kaleidoskop 2019, Tren Diet Mediterania hingga Intermittent

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi diet. shutterstock.com

Ilustrasi diet. shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Tahun baru tinggal satu hari lagi, biasanya sebagian dari kita telah menyiapkan resolusi khusus. Salah satunya ialah harapan hidup lebih sehat dan bonus impian berat badan ideal tercapai seperti diet. Lalu apakah di pengujung tahun ini Anda sudah memiliki resolusi khusus untuk hidup lebih sehat?

Nah, jika belum ada, Anda bisa menyimak kaleidoskop 2019 diet yang paling favorit, siapa tahu bisa menginspirasi resolusi hidup Anda lebih sehat.

Seperti yang dilansir dari laman Healthline, surat kabar di Amerika Serikat telah merilis peringkat tahunan tentang diet yang mencantumkan diet Mediterania di urutan teratas.

1. Diet mediterania

Diet Mediterania didasarkan pada makanan tradisional yang digunakan orang untuk makan di negara-negara seperti Italia dan Yunani pada tahun 1960. Para peneliti mencatat bahwa orang-orang ini sangat sehat dibandingkan dengan orang Amerika dan memiliki risiko rendah terhadap banyak penyakit gaya hidup.

Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa diet Mediterania dapat menurunkan berat badan, membantu mencegah serangan jantung, stroke, diabetes tipe 2, hingga kematian dini.

2. Diet Probiotik

Mindy Haar, Dekan Sekolah Profesi Kesehatan New York Institute of Technology (NYIT) percaya bahwa kesehatan usus akan terus mendapatkan traksi. Pil probiotik, bagaimanapun, tidak akan menjadi pusat perhatian. Makanan segar yang bisa menyeimbangkan microbiome.

"Pada 2019, lebih banyak orang yang mencari probiotik dari makanan dan minuman yang difermentasi seperti yoghurt, asinan kubis, dan teh," ucap Haar kepada Healthline

"Karena makanan berserat tinggi bertindak sebagai prebiotik yang memicu pertumbuhan probiotik, sekarang ada lebih banyak alasan untuk mengonsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan."

3. Diet Protein Nabati

Sejumlah ahli kesehatan percaya bahwa 2019 adalah tahun protein nabati. Masalah kesehatan, lingkungan, dan etika akan menyebabkan lebih banyak orang makan lebih sedikit protein hewani atau beralih ke pola makan nabati.

"Kami melihat lebih banyak opsi nabati seperti pasta kacang dan kedelai, tahu, atau burger quinoa di pasar," tambah ia.

Tren makanan baru-baru ini telah meningkatkan konsumsi alpukat, kangkung, dan quinoa dan semua makanan padat gizi yang luar biasa yang tidak boleh dilepaskan.

4. Puasa Intermittent

Beth Auguste, RD, ahli gizi diet terdaftar dari Philadelphia, mengatakan bahwa puasa intermittent menjadi lebih populer tahun ini.

"Mudah diikuti," kata Auguste kepada Healthline. "Itu tidak memerlukan pembatasan makanan tertentu, jadi itu tidak akan menghalangi keinginan Anda konsumsi makanan tertentu."

Beberapa penelitian menunjukkan hasil pemeliharaan berat badan yang positif. Namun waspadalah, karena puasa dapat mempengaruhi hormon. Puasa intermittent paling baik bagi wanita yang mendekati usia menopause, tetapi tidak untuk mereka yang hamil atau menyusui.

5. Diet keto

Diet keto menjadi sorotan pada 2018 dan berlanjut pada 2019. "Diet rendah karbohidrat berhasil dan ini merupakan iterasi lain," tukas Beth Auguste

Tetapi Auguste tidak merekomendasikan diet keto bagi mereka yang tidak bisa konsisten meninggalkan karbohidrat dalam jangka panjang.

Rachel Fine, ahli diet terdaftar dari New York City, ingin orang-orang waspada terhadap tren diet keto ."Memanipulasi keadaan ketosis tidak dianjurkan tanpa pengawasan dokter," tutur Rachel.

Untuk menurunkan berat badan dan manajemen, diet tinggi lemak tidak hanya meningkatkan pembakaran lemak secara keseluruhan.

"Daripada memanipulasi pembakaran lemak melalui diet, latihan (olahraga) adalah cara terbaik untuk meningkatkan pembakaran lemak tubuh," tukas ia.

Fine mencatat bahwa metabolit yang dihasilkan dari karbohidrat diperlukan untuk metabolisme lemak.

6. Diet makanan pahit

"Makanan pahit seperti asparagus, mentimun, jeruk bali, dan kakao akan lebih populer dalam diet di tahun mendatang," menurut Ann Louise Gittleman, PhD, ahli gizi yang berbasis di New York, Amerika Serikat.

"Pahit membantu detoksifikasi saluran pencernaan Anda dan ramah pada hati Anda," urai Gittleman kepada Healthline

Makanan pahit membersihkan racun, empedu yang lambat, yang membantu pencernaan dan mengembalikan tiroid Anda ke jalurnya untuk memulai pelangsingan dan pola hidup sehat.

EKA WAHYU PRAMITA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."