Hadiana, Guru PAUD yang Sulap Sampah Jadi Permainan Edukatif

Hadiana peraih penghargaan Ibu Ibukota Awards bidang Pendidikan Orang Tua dan Anak Usia Dini yang diadakan di The Hall, Senayan City, Jakarta, Jumat 20 Desember 2019. TEMPO/Eka Wahyu Pramita

karir

Hadiana, Guru PAUD yang Sulap Sampah Jadi Permainan Edukatif

Kamis, 26 Desember 2019 10:35 WIB
Reporter : Eka Wahyu Pramita Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, JAKARTA - Ibu Ibukota Awards telah sukses merangkul banyak pihak untuk menyelami ratusan cerita dari ibu-ibu inspiratif di berbagai penjuru ibukota. Tim seleksi dengan beragam latar belakang mulai dari kepala dinas, profesional hingga pakar dilibatkan untuk memilih 21 dari ratusan cerita baik dan inspiratif. Salah satunya kisah Hadiana yang terpilih sebagai juara di kategori Bidang Pendidikan Orang Tua dan Anak Usia Dini.

Hadiana ialah seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang lihai menyulap bahan bekas sebagai media pembelajaran. Selama tiga puluh tahun mengabdi, Hadiana terus belajar bagaimana mendorong dan melibatkan orang tua dalam proses belajar anak.

Awalnya Hadiana mendirikan PAUD di rumahnya di Tanjung Barat pada 2004, bukan tanpa jalan berliku. Banjir Jakarta pada 2007 menjadi pengalaman pelik yang tak terlupakan. Saat itu semua fasilitas PAUD yang dimilikinya hanyut. Alih-alih menyerah, ia malah memutar otak mencari solusi .

Ide cemerlang pun terbersit ketika melihat tumpukan sampah berserakan selepas banjir surut. "Akhirnya dengan bantuan semua pihak mulai wali murid, PKK, dan dasawisma kami mengumpulkan sampah-sampah yang banyak sekali saat banjir surut," ucap Hadiana usai ditemui di acara Ibu Ibukota Awards di Jakarta, Jumat, 20 Desember 2019.

Tanpa pikir panjang dengan dana terbatas, ia menyulap sampah-sampah menjadi kerajinan yang menunjang fasilitas dan media pembelajaran di PAUD-nya sebagai Alat Permainan Edukatif (APE).

Berkat kreativitasnya, sampah pun menjelma menjadi tikar, topi, gantungan, dan alat permainan edukatif. "Kita buat 90 persen dari sampah atau daur ulang yang dibantu oleh wali murid dan tentu murid-murid juga," ujar ia.

Lima perempuan meraih Ibu Ibukota Awards dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Jumat, 20 Desember 2019. TEMPO/Eka Pramita

Di tengah rasa syukur telah memiliki jalan keluar dari masalahnya tersebut, satu masalah pun datang lagi. Tahun 2016 Hadiana dihadapkan kondisi dilema saat dinyatakan lolos sebagai Pegawai Negeri Sipil, sebuah proses yang banyak diidamkan orang. Antara melepas status PNS atau fokus menjalankan profesi baru dengan menutup PAUD yang menjadi tempatnya berbagi dan berkarya.

"Waktu itu saya bingung tapi setelah diksusi sama suami dan dapat dukungan keluarga akhirnya saya memilih tetap aktif di PAUD dan tidak mengambil kesempatan menjadi PNS," tuturnya diliputi rasa haru.

Kepiawaiannya dalam mengolah sampah membawanya pada kesempatan aksi hidup baik lebih luas lagi. Saat ini, hampir semua APE yang dibuatnya dapat membentuk ekosistem keluarga yang sejahtera dan berdaya.

Prinsip yang dimiliki Hadiana ialah orang tua yang membuat, guru yang menggunakan, murid yang menikmati pelajaran. Semangat itulah yang mengantarkan Hadiana ke panggung puncak Ibu Ibukota Awards.

Tak bisa mengungkapkan banyak kata, namun linangan air mata mewakili rasa haru bahagianya. Hadiana pun tak muluk-muluk, setelah prestasi ini ia berkomitmen ikut memajukan PAUD yang ada di Jakarta.

"Saya ingin PAUD di Jakarta meski penuh keterbatasan bisa bangkit dan standar dengan PAUD yang sudah mapan. PAUD kami dengan penuh keterbatasan dan kesederhanaan telah masuk akreditasi. Alhamdulillah, kini anak-anak sudah bisa bermain dengan nyaman," pungkasnya.