Penyebab dan Gejala Blighted Ovum pada Kehamilan

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yunia Pratiwi

google-image
Ilustrasi pemeriksaan kandungan dengan USG (Ultrasonografi). marrybaby.vn

Ilustrasi pemeriksaan kandungan dengan USG (Ultrasonografi). marrybaby.vn

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Kehamilan anembrionik atau blighted ovum merupakan penyebab utama keguguran pada awal kehamilan. Kondisi ini terjadi di mana embrio tidak dapat berkembang setelah proses pembuahan terjadi. Penyebab umum dari blighted ovum adalah faktor genetik.

Baca juga: Mimpi Hamil Saat Tak Rencanakan Kehamilan, Apa Artinya?

Hal ini disebabkan oleh cacat kromosom dari sperma atau sel telur yang berkualitas rendah, serta bisa juga dari pembelahan sel yang abnormal. Cacat kromosom yang dimaksud di sini adalah jumlah kromosom yang ada terlalu banyak atau terlalu sedikit. Sebuah studi menyatakan bahwa trisomi 16 dapat menyebabkan blighted ovum, di mana tumbuh kantong kehamilan yang kosong. Sementara, trisomi lainnya bisa menimbulkan kematian embrio di awal kehamilan. Tidak hanya itu, kelainan pada kromosom 9 juga disinyalir menjadi penyebab dari blighted ovum.

Blighted ovum bisa terjadi sejak dini, bahkan ketika Anda belum menyadari kehamilan terjadi. Kondisi tidak dapat dicegah dan hanya terjadi satu kali pada sebagian besar wanita yang mengalaminya. Setelah mengalami blighted ovum, biasanya wanita akan memiliki kehamilan yang sehat pada kehamilan berikutnya. 

Proses terjadinya blighted ovum atau kehamilan anembrionik berawal dari sel telur yang berhasil dibuahi oleh sperma dan telah menempel di dinding rahim. Namun, sel telur atau sperma tersebut memiliki cacat kromosom. Pada kehamilan normal, jumlah kromosom yang seharusnya adalah 46 (23 dari sperma dan 23 dari sel telur). Namun, rendahnya kualitas sperma atau sel telur dan terjadinya pembelahan abnormal, membuat jumlah kromosom tersebut lebih atau malah kurang sehingga terjadi blighted ovum.

Selanjutnya, sel telur berkembang membentuk kantong kehamilan, tapi tidak ada embrio yang terbentuk. Di sisi lain, plasenta bisa tumbuh dan menopang dirinya sendiri tanpa ada janin selama beberapa waktu. Hal ini menyebabkan hormon kehamilan terus meningkat. Pada awalnya, Anda akan merasakan tanda-tanda layaknya kehamilan normal, seperti: berhenti menstruasi, tes kehamilan positif, hormon kehamilan meningkat, dan nyeri payudara.

Tubuh pun mengenali adanya kromosom abnormal. Secara alami kehamilan tidak dilanjutkan oleh tubuh karena tidak ada janin yang berkembang. Alhasil, terjadilah keguguran hamil anembrionik yang ditandai dengan: bercak atau pendarahan di vagina, kram perut, payudara tidak nyeri lagi, dan menstruasi yang berat setelah mengalami keguguran.

Anda dapat menunggu keguguran terjadi secara alami yang membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu atau dengan bantuan medis. Namun perlu diingat, tidak semua perdarahan yang terjadi di awal kehamilan merupakan tanda keguguran dari hamil kosong. Pemeriksaan secara lebih lanjut pada dokter sangat dianjurkan untuk mengetahui penyebabnya.

Sebelum jaringan kehamilan anembrionik benar-benar hilang, Anda akan terus mendapat hasil positif ketika melakukan tes kehamilan. Oleh sebab itu, Anda harus menghilangkan jaringan kehamilan yang tersisa agar terhindar dari risiko berbahaya dari jaringan kehamilan yang tertinggal.

Blighted ovum biasanya terjadi di antara minggu ke-8 dan ke-13 dalam usia kehamilan. Pada kehamilan ini, biasanya test pack menggunakan urine akan menunjukkan hasil positif yang lemah berwarna merah muda. Satu-satunya cara yang pasti untuk mengetahui kehamilan anembrionik adalah dengan melakukan USG. Pemeriksaan ini bisa menunjukkan keadaan plasenta dan kantong embrionik.

Dokter akan memperlihatkan tidak adanya embrio dalam kantong kehamilan, sehingga bisa disimpulkan bahwa kehamilan yang dialami adalah hamil kosong. Selain itu, Anda juga bisa melakukan tes genetik untuk mengetahui cacat kromosom yang menyebabkan terjadinya blighted ovum.

SEHATQ

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."