Memahami Mastitis pada Ibu Menyusui

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yayuk Widiyarti

google-image
Ilustrasi menyusui. SpineUniverse

Ilustrasi menyusui. SpineUniverse

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Banyak ibu baru yang belum paham istilah mastitis. Padahal, hal yang biasa jika ibu menyusui mengalami mastitis.

Mastitis merupakan peradangan pada jaringan payudara. Awalnya berbentuk benjolan yang berubah menjadi infeksi, kemudian terjadi perubahan pada payudara, seperti menjadi merah, keras, sakit, panas dan bengkak.

Ibu, tak perlu terlalu khawatir. Umumnya, peradangan ini akibat akumulasi kelebihan susu. Menurut penelitian, kebanyakan perempuan mengalami mastitis di payudara sisi kanan karena seringkali bayi menyusui di sisi kiri. Hal ini menyebabkan timbulnya benjolan yang membuat ibu merasa sangat tidak nyaman, demam, dan menyakitkan.

Mastitis menjadi salah satu sebab terganggunya proses menyusui pada bayi. Tak jarang akibat mastitis ibu akhirnya menyerah dengan memberikan susu menggunakan botol pada bayi.

Baca juga:
Ibu Menyusui Jangan Hanya Pikirkan Kuantitas ASI
Saran Dokter soal Menurunkan Berat Badan bagi Ibu Menyusui

Mastitis adalah pengalaman yang menyedihkan namun dapat diatasi. Walaupun ibu mengalami mastitis, asupan ASI pada bayi hendaknya tidak terhenti.

Umumnya mastitis terjadi pada tiga bulan awal setelah melahirkan, tepatnya pada minggu kedua atau ketiga masa menyusui. Pada satu bulan pertama, frekuensi ibu menyusui pada bayinya berlangsung satu jam sekali. Jika ibu mengalami mastitis, kondisi ini pasti terasa sulit. Untuk mengatasi mastitis coba lakukan langkah dari laman Boldsky berikut.

-Tetap menyusui pada payudara yang sakit. Lakukan pelekatan yang baik saat menyusui. Letakan bantal di bawah bayi dalam pangkuan ibu, arahkan posisi dagu bayi pada saluran yang tersumbat.

-Kompres payudara dengan air hangat.

- Pijat payudara dari atas sampai puting, kondisikan payudara dalam keadaan hangat. Pijat dengan mendorong susu sampai ke bagian puting.

-Hindari mengenakan bra yang ketat, yang dapat menghambat aliran ASI.

-Jangan konsumsi obat-obatan tanpa berkonsultasi dengan dokter. Pada tahap awal, obat yang disarankan untuk dikonsumsi ibuprofen atau parasetamol untuk mengurangi peradangan serta rasa sakit. Tetapi jika rasa sakit berlanjut, konsumsi antibiotik, sebelumnya konsultasikan terlebih dengan dokter.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."