Suka Naik Sepeda, Waspadai Dampaknya pada Organ Kewanitaan

Ilustrasi penggemar sepeda lipat. TEMPO/Tony Hartawan

kesehatan

Suka Naik Sepeda, Waspadai Dampaknya pada Organ Kewanitaan

Senin, 22 April 2019 16:54 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Yayuk Widiyarti

CANTIKA.COM, Jakarta - Anda suka naik sepeda? Bersepeda adalah olahraga yang menyenangkan dan bisa dilakukan di dalam, seperti pusat kebugaran, atau luar ruangan menyusuri jalan-jalan atau pegunungan.

Selain menyenangkan, bersepeda juga baik buat kesehatan. Meski demikian, para pakar mengingatkan dampak bersepeda pada area kewanitaan. Tak jarang setelah turun dari sepeda, pinggul dan sekitar vagina terasa sakit atau mati rasa.

Baca juga:Boleh Bersihkan Kemaluan dengan Tisu Basah, tapi Ada Syaratnya

Meski tak bersahabat dengan vagina, para pakar juga meminta agar kesenangan bersepeda jangan sampai dihentikan. Salah satu yang terpengaruh kegiatan bersepeda adalah saraf kemaluan atau pundendal, yang merupakan saraf utama di area pinggul. Saraf inilah yang memberikan perasaan pada daerah kemaluan dan perineum, atau area antara anus dan kemaluan, serta memberi sensasi pada klitoris.

Saraf pudendal mengitari tulang pinggul dan bila ada tekanan di area tersebut, maka saraf pun ikut merasakan dampaknya. Tekanan yang tak besar tidak masalah atau bahkan menyenangkan, tapi bila tekanan terlalu besar maka saraf akan tertekan.

Menurut ahli bedah plastik Andrew Elkwood, dampak dari saraf tertekan itu antara lain kesemutan dan mati rasa di tangan. Tapi perasaan itu akan hilang setelah tak ada lagi tekanan pada saraf. Bila tekanan terlalu sering terjadi, akibatnya justru lebih berbahaya dan bisa menyebabkan kerusakan, termasuk saraf terjepit.

ilustrasi bersepeda. (Pexels.com)

Tapi tak perlu khawatir, biasanya hal ini terjadi pada mereka yang bersepeda selama berjam-jam setiap hari, seperti para pebalap sepeda atau atlet triatlon.

"Banyak juga wanita yang mengalami kerusakan saraf akibat melahirkan dan tak jarang baru terjadi bertahun-tahun kemudian," jelas Elkwood kepada SELF.

Sementara itu, Dr. Jaime Knopman mengingatkan bila kesemutan dan mati rasa tidak hilang satu jam setelah berhenti bersepeda, sebaiknya segera ke dokter untuk memastikan tak ada hal serius yang terjadi. Tetapi bila kesemutan dan mati rasa itu langsung hilang tak lama setelah turun dari sepeda, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Artikel lain:6 Gerakan Olahraga Setelah Melahirkan untuk Bakar Lemak

Selain itu, semakin sering wanita bersepeda maka pinggul dan saraf pun semakin terbiasa mendapat tekanan sehingga rasa tak nyaman itu tak lagi muncul. Perhatikan pula posisi sadel dan setang sepeda karena ikut mempengaruhi saraf pudendal.

Menurut Knopman, sebaiknya posisi setang tak lebih rendah dari sadel karena posisi menunggang sepeda yang membungkuk akan memberi tekanan yang lebih besar pada pinggul. Selain itu, pilihlah celana dalam yang bisa mengalirkan udara sehingga vagina tidak lembab dan menjadi sarang kuman.