Kelembapan Semakin Tinggi, Risiko Demam Berdarah Naik

Ilustrasi nyamuk demam berdarah (pixabay.com)

kesehatan

Kelembapan Semakin Tinggi, Risiko Demam Berdarah Naik

Kamis, 18 April 2019 15:29 WIB
Reporter : Antara Editor : Yayuk Widiyarti

CANTIKA.COM, Jakarta - Hasil kajian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan peningkatan kasus penyakit demam berdarah berhubungan dengan tingkat kelembapan yang tinggi di suatu lokasi. Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan Klimatologi BMKG, Marjuki, di Jakarta, Kamis, 18 April 2019, menunjukkan kecocokan antara data kelembapan udara di DKI Jakarta yang lebih dari 75 persen dengan jumlah kasus DBD yang meningkat di wilayah tersebut.

“Yang paling mempengaruhi terkait kasus DBD bukan curah hujan, malah kelembapan udara,” katanya.

Marjuki mengungkapkan pengkajian yang bekerja sama dengan sejumlah lembaga tersebut menunjukkan kecocokan iklim dan cuaca dengan pertumbuhan perkembangbiakan nyamuk. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Achmad Yurianto, mengatakan kelembapan udara di atas 75 persen menjadi musim kawin nyamuk untuk kemudian berkembang biak jadi lebih banyak.

Artikel lain:Langkah Penting untuk Menghindari Nyamuk Demam Berdarah90 Persen Pasien DBD Anak-Anak, Pentingnya Peran Ibu Mencegahnya

“Ini jadi jawaban kenapa di Arab Saudi enggak ada nyamuk karena sangat kering dan kenapa di hutan banyak banget nyamuk, karena kelembapannya tinggi,” kata Yurianto.

Dia menyebutkan hasil kajian ini akan dijadikan suatu model untuk upaya pencegahan guna mengurangi risiko kasus demam berdarah.

“Kita harapkan, kalau kita sudah punya polanya, sebelum itu sudah menuju kelembapan sekian, kita harus gencar sosialisasikan ke masyarakat, promosikan kesehatan. Bukan setelah kejadian baru kita cari nyamuknya,” jelasnya.

Dia mengatakan Kementerian Kesehatan mengevaluasi kejadian bencana yang terjadi pada 2018, sebagian besar karena hidrometeorologi yang seharusnya dapat diantisipasi.

Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, yang biasanya menjadi induk penanganan bidang kesehatan saat bencana, kini mengupayakan antisipasi risiko bencana ketimbang upaya kuratif.