#JusticeForAudrey dan Kekerasan pada Anak di Mata Psikolog

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yayuk Widiyarti

google-image
#justiceforaudrey ikut digalangkan oleh aktris Bollywood, Kareena Kapoor. foto/instagram

#justiceforaudrey ikut digalangkan oleh aktris Bollywood, Kareena Kapoor. foto/instagram

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Tagar #JusticeForAudrey sedang tersebar di seluruh media sosial, dimulai dari petisi di laman change.org yang mendesak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) untuk membela korban penganiayaan yakni siswi SMP di Pontianak berinisial AY, 14 tahun, yang dikeroyok 12 temannya.

Kasus ini menyentuh banyak hati masyarakat, dan banyak yang tidak mengerti alasan 12 anak SMA yang tega melakukan tindakan kekerasan pada anak SMP, terutama setelah mendengar kalau korban saat ini tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit swasta di Pontianak dan telah mengalami trauma fisik dan psikologis. Di petisi tertulis kalau kepala korban sempat dibenturkan di aspal dan ia mendapat penyerangan di bagian dada.

Baca juga:
Penganiayaan Siswi SMP, Petisi #JusticeForAudrey Tembus 1,8 Juta

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, menjelaskan alasan anak bisa melakukan tindakan kekerasan. “Jadi begini sebenarnya, kenapa seorang anak melakukan tindakan kriminal atau bullying dan sebagainya? Karena ada kebutuhan untuk diterima, kebutuhan untuk menguasai dirinya dan teman-temannya,” tutur Anna di Jakarta Selatan, Rabu, 10 April 2019.

Ada beberapa alasan mengapa anak memiliki kebutuhan tersebut. Salah satunya adalah anak merasa tidak diterima di masa kecil.

“Waktu kecil aktivitasnya gitu-gitu saja, belajar, les, belajar, les. Jadi dia tidak bisa menumpahkan kegiatan yang lebih bersifat spontan,” lanjut Anna.

Dia mengatakan kalau risakan atau tindakan kekerasan seperti kasus ini relasinya adalah top down. Ada satu orang atau kelompok yang di atas dan satu orang atau kelompok yang di bawah. Anak-anak melakukan tindakan kekerasan saat mereka merasa tidak memiliki kegiatan lain untuk mengeluarkan emosi.

“Saya memang memprihatinkan sekali segala kondisi bullying. Hanya yang perlu juga kita cermati, mestinya bisa memberikan ide-ide aktivitas yang lebih positif untuk anak-anak kita. Jadi mereka tidak perlu menyerang teman lain,” jelas Anna.

Salah satu cara untuk menghindari anak melakukan kekerasan adalah dengan rutin berinteraksi dengan anak.

Artikel lain:
Soal #JusticeForAudrey, KPPAD Minta Pemberitaan Media Tak Vulgar

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."