4 Hal yang Harus Dipenuhi agar Anak Bahagia

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yayuk Widiyarti

google-image
Ilustrasi foto keluarga. shutterstock.com

Ilustrasi foto keluarga. shutterstock.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Anak yang bahagia adalah harapan setiap orang tua. Rasa bahagia pada anak bisa tercipta dari keterlibatan penuh orang tua di dalam kehidupannya. Terutama untuk anak usia 3-6 tahun, orang tua menjadi pondasi terciptanya rasa bahagia.

Di masa keemasan ini, otak anak diibaratkan seperti spons yang mudah menyerap apa pun, termasuk rasa bahagia. Menurut Elizabeth Santosa, psikolog pendidikan dan anak, kebahagiaan anak berdampak positif terhadap perkembangan psikososial, bahasa, dan kecerdasan.

Baca juga:
Anak Jadi Selebgram, Orang Tua Pahami Risiko dan Batasannya
Tips Anak Lancar Belajar Bahasa Asing di Usia Balita

 

“Anak yang bahagia akan memiliki kesadaran diri, cara manajerial, dan keterampilan sosial yang baik. Kondisi ini turut membantu suksesnya pelaksanaan pendidikan yang sedang dijalani anak,” tutur Elizabeth saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis, 24 Januari 2019.

Dia menguraikan empat faktor yang harus dipenuhi orang tua untuk membuat anak bahagia. Poin pertama, dia menyebutkan building happy memory. Di masa usia emas, perbanyaklah memori bahagia yang tidak terpaku terhadap materi, seperti mainan, boneka, atau lego.

“Kita kerap salah kaprah menafsirkan anak bahagia selalu dengan mainan. Ada hal yang lebih mendasar untuk dibangun orang tua bersama anak. Misalnya, ajak anak main di tempat tidur, jalan sembari ngobrol, ataupun bertukar cerita. Memori inilah yang akan terekam selamanya di otak anak. Sentuhan, tatapan mata, dan diperlakukan secara istimewa itu cara memproduksi rasa bahagia,” kata Elizabeth. 

Ilustrasi keluarga. Shutterstock

Faktor kedua, berdasarkan hasil penelitian pengasuhan Elizabeth pada 2018 terungkap hanya 48 persen orang tua yang hadir dan terlibat dalam mengasuh anak. Sementara 31 persen tidak hadir sama sekali, dan 21 persen hadir tapi tidak terlibat.

Dia menekankan pentingnya keterlibatan orang tua di setiap kegiatan anak, termasuk di saat bermain. Tidak hanya “mengoper” anak bermain dengan teman sebaya atau mainannya, tetapi ikut terlibat di dalamnya. Orang tua harus benar-benar memahami permainan atau topik perbincangan anak. 

Selanjutnya adalah faktor kebahagiaan pasangan suami istri. Bila salah satu orang tua tidak merasa bahagia dalam mengasuh dan mendidik anak maka turut menabung ketidakbahagiaan pada anak.

“Orang tua adalah pondasi anak bahagia. Bila salah satu merasa tidak bahagia atau tertekan, langsung bicarakan solusinya. Bila orang tua berkepribadian introvert, maka sepakatilah mengubah cara komunikasi demi perkembangan anak. Orang tua yang pasif tidak akan menghasilkan pendidikan apa pun secara optimal,” jelasnya.

Artikel lain:
Mona Ratuliu Punya Cara Mudah Mengajarkan Anak-anak Toleransi

Faktor terakhir dilihat dari demografis orang tua masa kini, yaitu peran pencari nafkah di keluarga, bisa ibu, ayah, atau bahkan keduanya. Melihat kondisi tersebut, Elizabeth menyarankan co-parenting agar orang tua tetap terlibat di setiap momen anak.

Co-parenting salah satu solusi untuk orang tua zaman now, tidak lagi bergantung satu-satunya kepada peran ibu sebagai pusat pengasuhan keluarga. Pembagian peran dan waktu harus disepakati bersama-sama. Kerja sama yang baik di antara ayah dan ibu harus bersifat konsisten serta selalu mendahulukan kepentingan anak,” ucap Elizabeth.   

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."