Psikolog Ungkap Fase Kritis Pernikahan, Harapan Vs Kenyataan

Reporter: Cantika.com
Editor: Rini Kustiani
Selasa, 8 Mei 2018 14:59 WIB
Psikolog Ungkap Fase Kritis Pernikahan, Harapan Vs Kenyataan

CANTIKA.COM, Jakarta - Pernikahan menjadi fase berikutnya dari kehidupan seseorang. Mereka yang memutuskan menikah harus membangun rumah tangga bersama dengan pasangan dan meraih cita-cita hidup bersama. Selama masa itu, tentu tiap pasangan suami-istri memiliki tantangan berbeda.

Baca juga:

Kirana Larasati Ingin Menikah Lagi: Jawabnya Cukup Yes dan No

8 Tahun Menikah Elsa Pataky dan Chris Hemsworth Makin Lengket

Psikolog dari Universitas Indonesia, Ajeng Raviando, mengatakan ada beberapa fase dalam pernikahan yang membuat pasangan harus berdamai dengan keadaan, terutama ketika menghadapi sesuatu yang tak sesuai dengan harapan. "Pernikahan di tahun pertama itu bisa saja rentan karena ini tahun penuh cobaan," kata Ajeng di Lotte Shopping Avenue, Jakarta Selatan, Senin, 7 Mei 2018.

Sebelum menikah, tiap orang punya banyak ekspektasi terhadap pasangannya. Dalam periode ini, mereka mulai melihat seperti apa realitanya. Jika tahun pertama pernikahan terlewati, masuklah pada fase kedua dengan titik mulai 5 hingga 10 tahun setelah menikah. "Ada cobaan lain, yaitu bosan karena rutinitas," ucap Ajeng.

Ilustrasi keluarga bahagia/harmonis. Suami mencium istri. Shutterstock.com

Tantangan di setiap fase ini, menurut dia, bisa lebih kompleks lagi jika pasangan suami-istri menghadapi persoalan lain. Misalnya selama sekian tahun menikah belum juga mendapat momongan, campur tangan dari keluarga besar dalam pernikahan, sampai urusan ekonomi.

Ajeng menambahkan, angka perceraian di Indonesia dari tahun 2013 sampai 2015 meningkat sekitar 15-20 persen. Menurut dia, ada empat hal yang menjadi penyebab terbesar meningkatnya angka perceraian, yaitu hubungan yang sudah tidak harmonis, pasangan tidak bertanggung jawab, ada pihak ketiga, dan masalah ekonomi.

ASTARI PINASTHIKA SAROSA