Bukan Susu, Menteri Kesehatan Sarankan Makan Ini untuk Protein

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rini Kustiani

google-image
Ilustrasi susu. TEMPO/Charisma Adristy

Ilustrasi susu. TEMPO/Charisma Adristy

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Menteri Kesehatan Nila Moeleok mengingatkan agar asupan protein setiap orang terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan protein tubuh, Menteri Nila Moeloek mengingatkan kalau sumbernya bukan hanya dari susu.

Baca juga:
Teknik Menyiangi Ikan ala Jepang, Ikan Dilarang Meronta

"Mencukupi kebutuhan protein anak-anak bukan hanya melalui susu. Ada makanan lain yang memiliki nilai gizi sama, tak kalah dengan susu dan pasokannya jauh lebih berlimpah," kata Menteri Nila Moeloek seperti dikutip dari keterangan tertulus Kementerian Kesehatan, Sabtu 31 Maret 2018. Sumber protein yang dimaksud Menteri Nila Moelek adalah ikan.

Menteri Kesehatan Nila Moeleok menjelaskan, protein hewani dan nabati perlu dikonsumsi bersama jenis pangan lainnya agar jumlah dan kualitas gizi yang dikonsumsi anak mencapai gizi seimbang. Secara umum komposisi protein hewani pada ikan tidak terlalu dengan protein hewani lainnya. Ikan justru lebih menyehatkan karena lemak yang terkandung di dalamnya bukan merupakan lemak jenuh.

Ilustrasi hidangan ikan. TEMPO/Dwi Renjani

Sebagai salah satu sumber protein hewani, ikan mengandung asam lemak tak jenuh. Selain itu, kandungan omega 3 pada ikan jauh lebih tinggi dibanding sumber protein hewani lain. "Ikan tidak hanya mengandung protein, namun juga mengandung senyawa yang alami, yakni PUFA, EPA dan DHA," tutur Menteri Nila Moeloek.

Mengenai pilihan jenis ikan, banyak ikan dengan harga terjangkau tetap bernilai gizi. Contoh, ikan kembung memiliki kandungan omega 3 sebanyak 1,5 kali lebih tinggi dari ikan salmon yang harganya justru lebih mahal. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menambahkan, gagasan yang menjadikan susu sebagai konsumsi harian masyarakat perlu ditunjang dengan kajian yang lebih mendalam.

Ilustrasi wanita minum susu, Jakarta. TEMPO/Aditia Noviansyah

Musababnya, menurut dia, perlunya perhatian terhadap adanya data prevalensi intoleransi laktosa yang cukup tinggi, di samping risiko alergi susu. Selain itu besarnya risiko kontaminasi susu yang tidak disajikan atau disimpan secara tepat bisa berdampak pada kejadian penyakit yang dihantarkan melalui makanan.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."