Tak Jemu Belajar, Kunci Arini Subianto Jadi Wanita Terkaya

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Yayuk Widiyarti

google-image
Arini Subianto. facebook.com

Arini Subianto. facebook.com

IKLAN

TEMPO.CO, JakartaArini Subianto kini dikenal sebagai wanita terkaya di Indonesia dengan aset sekitar Rp 11 triliun. Ia mengambil alih perusahaan ayahnya, konglomerat Benny Subianto, di awal 2017. Sebagai anak perempuan tertua, Arini sekarang menjabat sebagai Presiden Direktur Persada Capital Investama, perusahaan induk yang bergerak di berbagai sektor, seperti kayu, minyak sawit, karet, dan batubara.

Nrini sendiri sebenarnya tidak asing dengan dunia bisnis. Setelah menuntut ilmu di Parsons School of Design untuk S1 dan Fordham University untuk S2 di New York, Amerika Serikat, Arini dan kembali ke Tanah Air pada 1998, ia ingin punya toko yang menjual pernak-pernik unik. Baca: Arini Subianto, dari Sosialita Jadi Wanita Terkaya di Indonesia

Wanita yang kini berada di posisi ke-37 orang terkaya di Indonesia itu mendirikan toko perabotan dan kado di Jakarta. Dua tahun kemudian, dia menggabungkan toko kecilnya dengan toko buku teman SMP-nya di Ora et Labora, Winfred Hutabarat, yang diberi nama Aksara.

Perpindahan dari dua industri yang cukup berbeda tentunya memiliki berbagai macam tantangan. Namun, bagi Arini perpindahan industri ini adalah kesempatan untuk terus memperluas ilmunya.

“Saya senang belajar sesuatu yang baru. Buat saya, perpindahan ini pertama memang menakutkan, karena saya merasa saya tidak tahu apa-apa. Tetapi karena saya memang selalu ingin tahu, jadi belajar dari orang-orang yang berpengalaman di sini,” ujar Arini Subianto kepada Tempo di kantornya yang nyaman di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, 12 Desember 2017.

Belajar dari mitranya, Arif Permadi Rachmat, Arini merasa dapat banyak pembelajaran mengenai beberapa hal, seperti kelapa sawit dan karet. Cara belajarnya juga bukan dari segi baku melainkan dari dialog.

“Pembelajarannya itu tidak selalu melulu dengan pelajaran tersebut. Kita juga berinteraksi dengan berbagai tim manajemen,” jelas perempuan berusia 47 tahun itu. Baca juga: Arini Subianto, Wanita Terkaya RI Berharta Rp 11 Triliun

Dari berbagai interaksi, Arini dapat belajar konsep disiplin, efisiensi, dan berbagai macam hal lainnya dari orang yang berbeda-beda.

“Saya menikmati diskusi, saya menikmati belajar sesuatu yang baru. Jadi buat saya selalu seru dengan segala tekanannya,” ungkap ibu dari dua anak ini.

Dia merasa kalau kita semua memiliki pilihan untuk melihat hal dari sisi positif atau dari sisi negatif. Arini memilih untuk melihat situasinya dari sisi positif. Selain itu, dia juga menemukan persamaan di antara bisnis Aksara dengan bisnis Persada Capital Investama.

“Semuanya tentang managing people dan berinteraksi dengan manusia lain,” tutur Arini.

Dia juga membawa apa yang diajarkan orang tuanya sejak dia kecil, seperti produktivitas, efisiensi, dan hukum pareto, yang menyatakan kalau banyak kejadian, sekitar 80 persen dari efeknya disebabkan oleh 20 persen dari penyebabnya.

Arini belajar untuk memasukkan konsep-konsep yang sangat dasar tersebut ke dunia manajemen dan bisnis. Namun, tentunya dia tidak bisa memimpin hanya dengan mengetahui konsep. Ia mengatakan kalau ilmunya juga harus ada, dia harus mengerti industri tersebut bergerak ke mana. Pada akhirnya, semua disiplin yang sama yang diterapkan.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."