Konsisten Berolahraga Bantu Kurangi Risiko Insomnia

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rezki Alvionitasari

google-image
Aktivitas warga saat berolahraga di hari bebas kendaran bermotor (CFD) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu, 24 Desember 2023. Warga memanfaatkan libur Natal dengan berolahraga seperti berlari, bersepeda, dan berjalan di area Car Free Day. TEMPO/ Febri Angga Palguna

Aktivitas warga saat berolahraga di hari bebas kendaran bermotor (CFD) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu, 24 Desember 2023. Warga memanfaatkan libur Natal dengan berolahraga seperti berlari, bersepeda, dan berjalan di area Car Free Day. TEMPO/ Febri Angga Palguna

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Penelitian menunjukkan bahwa berolahraga secara konsisten antara dua sampai tiga kali seminggu dapat membantu mengurangi risiko insomnia. Olahraga juga bisa membantu kita mencapai waktu tidur harian yang direkomendasikan, yaitu enam sampai sembilan jam.

Menurut siaran pers Medical Daily pada Rabu, 27 Maret 2024, para peneliti dalam studi terbaru ini mengevaluasi frekuensi, durasi, dan intensitas aktivitas fisik mingguan serta gejala insomnia, durasi tidur malam, dan kantuk siang di antara sekelompok orang dewasa berusia separuh baya. Peserta penelitian berasal dari 21 pusat di sembilan negara Eropa.

Para peneliti mengevaluasi respons 4.399 peserta yang menjadi bagian dari Survei Kesehatan Respirasi Komunitas Eropa.

Peserta menjawab kuesioner tentang frekuensi dan durasi aktivitas fisik pada awal studi (1998-2002) serta aktivitas fisik, gejala insomnia, durasi tidur, dan kantuk siang 10 tahun kemudian (2011-2014).

Peserta yang berolahraga dua kali atau lebih dalam seminggu, selama satu jam per minggu atau lebih, dianggap sebagai orang yang aktif secara fisik.

Selama periode studi, 37 persen peserta terus menerus tidak aktif, dan 25 persen terus menerus aktif, sementara 18 persen menjadi aktif dan 20 persen menjadi tidak aktif.

Peserta dari Norwegia memiliki kemungkinan paling tinggi untuk tetap aktif, sementara mereka dari Spanyol dan Estonia memiliki kemungkinan paling tinggi untuk tetap tidak aktif.

Studi juga mencatat beberapa faktor yang terkait dengan peserta yang tetap aktif. Mereka lebih banyak pria, berusia lebih muda, memiliki berat badan sedikit lebih rendah, pernah merokok, dan sedang bekerja.

Menurut para peneliti, setelah disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, berat badan, riwayat merokok, dan pusat studi, mereka yang tetap aktif secara signifikan (42 persen) lebih sedikit kemungkinannya mengalami kesulitan tidur, 22 persen lebih sedikit kemungkinannya memiliki gejala insomnia, dan 40 persen lebih sedikit kemungkinannya melaporkan dua atau tiga (37 persen lebih sedikit) gejala insomnia.

Faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin wanita, dan berat badan secara independen terkait dengan gejala insomnia.

Setelah memperhitungkan faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, berat badan, riwayat merokok, dan pusat studi, individu yang konsisten aktif lebih mungkin dikategorikan sebagai penidur normal dibandingkan dengan mereka yang tetap konsisten tidak aktif.

Para peneliti menyampaikan bahwa mereka yang tetap aktif secara signifikan (55 persen) lebih mungkin menjadi penidur normal, secara signifikan lebih sedikit (29 persen) kemungkinannya menjadi penidur pendek (6 jam atau kurang), dan 52 persen lebih sedikit kemungkinannya menjadi penidur panjang (9 jam atau lebih).

"Dan mereka yang menjadi aktif memiliki kemungkinan 21 persen lebih besar untuk menjadi penidur normal daripada mereka yang tetap tidak aktif," kata mereka.

Studi tersebut tidak hanya menggarisbawahi pentingnya olahraga untuk tidur, tetapi juga menyoroti pentingnya menjaga konsistensi dalam aktivitas fisik dari waktu ke waktu.

Pilihan Editor: Ketahui Waktu Terbaik dan Jenis Olahraga saat Puasa di Bulan Ramadan

ANTARA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."