Cerita Veronica Pranata Rintis Bisnis Perhiasan, Berawal dari Pengalaman Beli Cincin Pernikahan

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Veronica Pranata, Co-Founder Sol et Terre. Foto: Sol et Terre

Veronica Pranata, Co-Founder Sol et Terre. Foto: Sol et Terre

IKLAN

CANTIKA.COM, Tangerang - Desainer perhiasan dan pengusaha, Veronica Pranata bersama aktris Chelsea Islan membidani bisnis perhiasan berlian yang dibuat di laboratorium atau lab grown diamond bertajuk Sol et Terre yang dirilis pada awal Oktober ini. Bagi Veronica sendiri, industri perhiasan bukan barang baru. Dia sudah berkarier sebagai desainer perhiasan sekitar tiga tahun, sebelumnya dia bekerja di bidang gaya hidup dan mode khusus wanita.

Lantas, apa yang mendorong dia terjun membuka usaha berlian sendiri, khususnya lab grown diamond? Ternyata berangkat dari pengalaman pribadinya saat menyiapkan pernikahan lima tahun lalu. Dia terkejut dengan harga cincin pernikahan yang terbuat dari berlian.

"Pada saat saya mau menikah, saya baru tahu harga berlian. Saya kaget, padahal saya harus bayar ini dan itu. Saat itu, belum ada berlian lab grown. Jadi, akhirnya saya provide solution (menyediakan solusi) untuk orang-orang seperti saya dulu," ujar Vero sapaan akrabnya dalam acara peluncuran Sol et Terre di ICE BSD, Tangerang, Jumat, 6 Oktober 2023.

Menurut Vero, harga fantastis untuk membeli cincin berlian natural bisa digunakan untuk kebutuhan lain dalam memulai kehidupan rumah tangga.

"Tentu saja saya tidak mau mempersulit calon suami saya. Karena begitu banyak biaya (pernikahan) dan pemikiran masa depan seperti membeli rumah atau mobil. Saya rasa banyak kebutuhan yang lebih saya utamakan ketimbang membeli berlian tambang saat itu," ucapnya.

Ada Peran Suami dalam Penamaan Merek Perhiasan

Menurut Vero, sang suami Raynaldo Djajasaputra berperan besar dalam penamaan Sol et Terre.

"Dia merenung sendiri. Kita bikin nama banyak, tapi itu yang paling bagus," ucapnya.

Sol et Terre merupakan bahasa Latin. Sol artinya matahari, et itu dan, serta Terre itu bumi.

"Kenapa kita pilih matahari, kita mau merangkul pelanggan kita dengan hangat. Teman-teman familiar dengan suasana dari toko perhiasan yang 'sangat dingin', mau masuk juga ragu dan terintimidasi. Di Sol et Terre menawarkan kehangatan," ucapnya.

Sementara kata bumi dipilih sebaga representasi wujud komitmen mereka untuk berdampak pada lingkungan dan sosial. Sol et Terre diketahui berkolaborasi dengan tiga organisasi nirlaba yaitu Plan Indonesia, Wahana Visi Indonesia, dan Jakarta Animal Network untuk aktivasi kegiatan sosial ke depannya.

Seleksi Ketat Berlian, Ada 19 Parameter yang Ditetapkan Veronica Pranata

Vero memegang prinsip dalam menjual suatu benda, hal utama yang perlu dijaga adalah kepercayaan pelanggan. Maka dari itu, dia menyeleksi berlian dengan ketat.

"Untuk round diamond (berlian model bulat) ada 19 parameter, fancy cut seperti hati, oval, dan pir ada 14 parameter yang ditetapkan untuk menyortir berlian yang dipakai Sol et Terre," ucapnya.

Lantas, apa saja parameternya? Di antaranya memilih pemotongan dan angle proporsi berlian yang memaksimalkan pantulan cahaya. Kejernihan yang teratas, begitu pula dengan warna putih paling atas.

"Sol et Terre ingin memberikan lab grown diamond dengan kualitas terbaik," tuturnya.

Lab grown diamond yang digunakan oleh Sol et Terre juga telah disertifikasi GIA (Gemological Institute of America) dari Amerika Serikat untuk berlian 0,3 - 0,7 karat dan IGI (International Gemological Institute) dari Belgia untuk berlian 0,7 karat ke atas.

Soal harga, perhiasan lab grown diamond satu karat Sol et Terre dibanderol sekitar Rp48 juta. Sementara untuk berlian natural dengan karat yang sama, Anda perlu merogoh kocek hingga Rp200 juta. Semuanya kembali ke anggaran masing-masing ya, Sahabat Cantika.

Pilihan Editor: Tips Membeli Perhiasan Berlian untuk Kali Pertama

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."