Selain kelahiran prematur, faktor risiko endometriosis juga bisa berasal dari konsumsi susu kedelai selama ibu mengandung, menurut Luky. Ketika sang ibu, yang memiliki faktor genetik endometriosis, sering mengonsumsi susu kedelai saat hamil, anak memiliki risiko mengidap endometriosis.

Kedelai mengandung zat fitoestrogen. Pada pasien endometriosis, kadar fitoestrogen yang tinggi dapat berpengaruh pada peningkatan proses inflamasi jika susu kedelai dikonsumsi dalam jumlah yang banyak.

Luky mengingatkan hubungan konsumsi susu kedelai dengan meningkatnya risiko endometriosis masih terus diteliti hingga saat ini.

Gangguan Fertilitas

Endometriosis bisa menjadi pemicu gangguan kesuburan atau fertilitas karena sel yang menempel pada jaringan rahim membuat anatomi tubuh menjadi tidak normal. Pada kasus endometriosis, sel telur sulit masuk ke saluran tuba sehingga menurut Luky 50 persen pasien endometriosis sulit hamil.

Endometriosis juga bisa bertumbuh secara progresif sehingga berdampak pada kualitas sel telur, menghambat proses pembuahan dan memperburuk kualitas embrio.

Deteksi endometriosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan USG Transvaginal atau transektal dan MRI. Salah satu gejala endometriosis adalah sakit perut saat haid hingga tidak bisa beraktivitas sama sekali.

Endometriosis juga dapat ditangani dengan bantuan obat hormonal yang dapat meredakan nyeri saat haid dan menghambat pertumbuhan endometriosis. Obat itu perlu dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama. Dokter juga memberikan obat hormonal jangka panjang setelah pasien menjalani operasi untuk mencegah endometriosis kambuh.

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika