Nestle Dorong Lebih Banyak Perempuan Bekerja di Bidang STEM

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Imelda Mayasari, insinyur perempuan pertama di Nestl Indonesia yang berkesempatan untuk menjalankan misi di Nestl Vietnam/Nestle

Imelda Mayasari, insinyur perempuan pertama di Nestl Indonesia yang berkesempatan untuk menjalankan misi di Nestl Vietnam/Nestle

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Tidak banyak perempuan yang bekerja di bidang Science, Technology, Engineering and Math (STEM). Menurut data UNESCO, selama bertahun-tahun perempuan dan anak perempuan tidak berpartisipasi dalam bidang sains sebanyak rekan laki-laki mereka, terhitung kurang dari 30 persen perempuan menjadi peneliti STEM di dunia. Padahal dari segi akademik dan kualitas sumber daya manusia, perempuan tentunya tidak kalah dengan para laki-laki. 

Di Nestlé, perempuan memegang 43,9 persen posisi manajerial perusahaan dan jumlah yang besar pada posisi operasional, dan angka ini terus bertumbuh setiap tahunnya. Menyadari kurangnya perwakilan wanita dalam bidang sains, perusahaan itu terus mendukung perempuan untuk membuka potensi mereka dalam bidang STEM. Hal itu termasuk dalam menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional masing-masing individu. Sehingga generasi perempuan maupun anak perempuan di masa depan dapat terinspirasi untuk mengejar mimpi dalam berbagai bidang, tanpa harus merasa dibatasi karena status gender.

Presiden Direktur Nestlé Indonesia, Ganesan Ampalavanar menyampaikan bagaimana perusahaan mendukung potensi seluruh karyawan tanpa memandang latar belakang gender mereka. Ia percaya bahwa keberagaman dalam lingkungan kerja akan menciptakan berbagai ide, pandangan, dan inovasi yang bermanfaat untuk banyak pihak. "Sains merupakan salah satu bidang yang dapat melahirkan berbagai solusi, dan kami percaya rekan-rekan perempuan di Nestlé Indonesia berperan besar juga di dalamnya," katanya dalam keterangan pers yang diterima Cantika pada pertengahan Januari 2023. 

Ganesan mengatakan timnya selalu berupaya untuk menciptakan lingkungan kerja yang ramah bagi seluruh karyawan, termasuk para ibu bekerja yang tersebar di mana-mana, dari Kantor Pusat hingga Pabrik-Pabrik kami. "Penting untuk perusahaan selalu berupaya untuk mendukung, melindungi, dan mengembangkan potensi dan inovasi para ibu bekerja di Nestlé Indonesia,” katanya.

Factory Manager Nestlé Vietnam, Imelda Mayasari membagikan pengalamannya sebagai insinyur perempuan pertama di Nestlé Indonesia yang ditugaskan untuk melakukan misi di Vietnam. Sebelum sampai di Vietnam, Imelda bekerja selama 18 tahun di Pabrik Nestlé Kejayan, ia menjalankan tiga peran dalam kehidupan, yaitu sebagai insinyur, ibu, dan istri. Kondisi tersebut menantang, dan mengajarkannya cara untuk membuat skala prioritas yang tepat. "Terkadang ada beberapa pekerjaan maupun kondisi yang harus saya utamakan, dan pembagian waktu ini tidak selalu harus rata jumlahnya. Untuk sampai di titik profesi saat ini, saya percaya dibutuhkan fleksibilitas dari keluarga, atasan/rekan kerja, serta lingkungan di sekitar saya. Untuk itu, saya sangat bersyukur dapat menjadi bagian dari perusahaan yang ramah terhadap ibu bekerja, serta mendukung kami para wanita untuk maju dan membuka potensinya di bidang STEM,” katanya.

Selain itu, Imelda turut menyampaikan pandangannya terhadap anggapan bahwa bekerja di bidang teknik atau mesin tidak aman untuk perempuan. Baginya bekerja di pabrik bukanlah hal yang menakutkan untuk perempuan. Ia melihat bagaimana Nestlé Indonesia menyediakan fasilitas dan infrastruktur yang ramah untuk perempuan, terutama Ibu bekerja. "Salah satunya melalui pengadaan ruang menyusui di pabrik-pabrik Nestlé Indonesia,” katanya. 

Imelda juga mengakui bagaimana dirinya merasa banyak terekspos terhadap kesempatan mentoring, workshop, atau pelatihan berstandar internasional selama berkarier dalam bidang teknik dan mesin. Hal ini turut mendorongnya untuk terus berkembang dan melanjutkan perjalanan kariernya tanpa harus menghadapi diskriminasi gender.

Keamanan karyawan dalam bekerja adalah prioritas utama perusahaan. Ini berlaku untuk seluruh proses produksi atau manufaktur portofolio, mulai dari makanan dan minuman hingga semua sistem dan layanannya. Nestlé menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP) yang diakui secara internasional untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan. GMP mencakup semua aspek manufaktur, termasuk prosedur operasi standar, manajemen dan pelatihan orang, pemeliharaan peralatan, dan penanganan bahan.

Dalam rangka memperingati Hari Ibu Nasional yang jatuh pada 22 Desember tiap tahunnya, Nestlé Indonesia kembali menguatkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman untuk seluruh karyawannya, tidak terlepas mereka yang merupakan ibu atau calon ibu. Sejalan dengan tema yang diusung pada peringatan Hari Ibu ke-94, yaitu “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju”, perusahaan ini menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan gender dan percaya bahwa latar belakang gender tidak dapat membatasi seorang individu dalam berkarya dan berkarir, termasuk mendorong karyawan perempuannya untuk berkarya di bidang STEM.

Direktur Corporate Affairs Nestlé Indonesia Siti Sufintri turut mengapresiasi para ibu bekerja dalam momen Hari Ibu Nasional ini. Menurutnya, ibu bekerja tidak hanya di kantor atau rumah, tetapi di mana pun kita berada. Terdapat ibu bekerja di dapur, laboratorium, hingga pabrik. "Saya sangat ingin mengapresiasi semua ibu, terlepas dari perbedaan latar belakang yang kita miliki. Kita sama-sama bekerja keras untuk keluarga, perusahaan, dan diri sendiri. Peran ibu di keluarga memang tidak tergantikan, tidak hanya sebagai seseorang yang merawat dan mendidik anak, tetapi ibu juga dapat menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dalam menentukan apa yang ingin dilakukan kedepannya. Selamat Hari Ibu Nasional kepada seluruh Ibu hebat di Indonesia,” katanya.

Dalam mendukung orang tua bekerja, Nestlé secara global mengeluarkan kebijakan Global Parental Support Policy yang merupakan kebijakan cuti melahirkan bagi ibu dan ayah. Nestlé Indonesia juga turut mengadopsi kebijakan tersebut, di mana ibu berhak untuk cuti dan dapat diperpanjang hingga 30 minggu atau 7.5 bulan, sehingga ibu mendapatkan waktu berkualitas, memperkuat ikatan mereka dengan bayi yang baru lahir, dan memberi dukungan yang maksimal bagi tumbuh kembang anak mereka. Sedangkan untuk karyawan laki-laki turut mendapatkan paternity leave sebanyak 20 hari atau 4 minggu. Selama periode cuti tersebut gaji tetap dibayarkan penuh oleh perusahaan.

Selain kebijakan maternity dan paternity leave untuk mendukung ibu bekerja, ada pula program yang mendukung para ibu bekerja. Ada fasilitas ruang menyusui di kantor dan pabrik. Ada pula program kesehatan dan keafiatan yang terdiri atas fasilitas kesehatan perusahaan, flexible working arrangement, dan Employees Assistance Program (EAP) untuk mendukung kesehatan mental.

Perusahaan pun membuat Pop-Up Day Care yang diinisiasi sejak 2017 untuk membantu orang tua pada masa libur sekolah, natal, maupun lebaran. Lalu ada banyak kampanye yang menyoroti dukungan serta pemberdayaan para ibu di Indonesia melalui melalui brand perusahaan.

Baca: Memahami Break the Bias di Tempat Kerja, Setiap Orang Punya Kesempatan Sama

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."