7 Faktor yang Mempengaruhi Seberapa Sering Harus Keramas

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi keramas.netdna-cdn.com

Ilustrasi keramas.netdna-cdn.com

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Mungkin mengejutkan bagi sebagian orang bahwa kamu seharusnya tidak keramas setiap hari. Sebab jika kamu terlalu sering mencuci rambut, berisiko membuatnya kering. Sebaliknya, jika jarang keramas, kemungkinan besar rambut akan menjadi berminyak. Lantas, seberapa sering harus keramas? Berikut tujuh faktor yang memengaruhinya.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Seberapa Sering Harus Keramas

1. Jenis Kulit

Jika kulit kamu berada di antara berminyak dan kering, maka kamu harus keramas sekali atau dua kali seminggu. Namun, jika kulit kamu lebih berminyak, kamu harus keramas lebih sering.

Namun, kamu tidak boleh keramas setiap hari. Sebab mencuci rambut terlalu sering untuk menghilangkan minyak, justru memperburuk masalah. Langsung mengeringkan kulit kepala, yang secara tidak langsung membuat tubuh kita merespons dengan membuat lebih banyak minyak untuk mengatasi kekeringan itu.

2. Tekstur Rambut

Menurut layanan sumber daya kesehatan Universitas Columbia, Go As Alice!, tekstur rambut yang berbeda membutuhkan perawatan yang berbeda pula.

Jika rambut kamu kasar atau keriting, dan tidak terlalu, sebaiknya keramas seminggu sekali. Namun, jika rambut halus dan lurus, kamu harus keramas sekitar dua kali seminggu atau lebih.

3. Cara Menata Rambut

Tidak peduli seperti apa rambut kamu, aturannya berbeda secara drastis tergantung pada bagaimana kamu menatanya. Jika rambut diproses atau rusak, jangan terlalu sering keramas.

4. Usia

Usia juga dapat secara drastis menentukan seberapa sering harus mencuci rambut. Soalnya, seiring bertambahnya usia, kulit kepala kita menghasilkan lebih sedikit minyak. Jadi, usia 65 tahun tidak perlu keramas sebanyak usia 17 tahun.

Namun, saat keramas sebaiknya konsentrasikan produk pada kulit kepala daripada ujung rambut untuk memastikan pencucian minyak yang tepat.

5. Etnis

Etnis juga faktor yang dipertimbangkan saat membahas seberapa sering seseorang harus keramas. Beberapa etnis justru memiliki rambut yang lebih lebat, rambut yang lebih kering, rambut yang lebih berminyak, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, jadwal keramas setiap orang akan berbeda satu sama lain.

Jika etnis kamu memiliki rambut yang lebih kering, kamu tidak boleh keramas sebanyak orang yang etnisnya memiliki rambut lebih berminyak.

6. Panjang Rambut

Panjang rambut juga merupakan faktor penentu seberapa sering harus keramas. Jika kamu memiliki rambut panjang, akan sangat merepotkan untuk menjaga ujungnya tetap lembap karena minyak sebum yang dihasilkan kulit kepala kita harus melewati seluruh panjang rambut Anda untuk mencapainya.

Jadi, mencuci lebih jarang sebenarnya lebih baik untuk orang dengan rambut panjang, dibandingkan rambut pendek.

7. Tingkat Aktivitas

Tingkat aktivitas atau seberapa sering kamu berolahraga, juga akan memengaruhi seberapa sering harus keramas. Jika kamu sangat aktif, maka sebaiknya keramas lebih sering untuk menghilangkan keringat dan bakteri yang mungkin menumpuk saat kamu menggerakkan tubuh.

Agar tidak terlalu sering keramas, sebaiknya kamu menyesuaikan rutinitas olahraga bertepatan dengan jadwal mencuci rambut Anda.

Tanda Terlalu Sering Keramas

Tanda-tanda kamu terlalu sering keramas adalah memiliki kulit kepala yang kering, gatal, atau bahkan ujung bercabang. Tanda-tanda lainnya termasuk rambut patah, kusam atau tidak berkilau, warna memudar, atau rambut lebih berminyak dari biasanya.

Jika kamu ingin mengecek sudah keramas secara berlebihan atau tidak, coba tes dengan menyisirnya saat kering. Jika sikat tersangkut (bukan karena simpul) dan tidak mau bergerak, itu pertanda kamu perlu mengurangi frekuensi keramas.

Yang Terjadi Jika Jarang Keramas

Jika kamu jarang keramas, itu dapat menyebabkan infeksi pada kulit kepala. Kondisi itu disebut sekresi sebaceous, yang merupakan infeksi pada folikel rambut. Infeksi khusus ini sering bercampur dengan ketombe dan dapat meningkatkan risiko kondisi yang disebut folikulitis.

Tidak mencuci rambut juga dapat menyebabkan penumpukan malassezia di kulit kepala kamu, yang merupakan sejenis jamur mirip ragi. Jika tidak diobati, itu dapat menyebabkan lapisan sel kulit mati terlepas dari kepala.

Kamu akan melihat serpihan ketombe yang berminyak dan kekuningan berjatuhan dari rambut kamu, yang dapat membuat kulit kepala sangat gatal, merah, dan bahkan bersisik.

Baca juga: Terserah Mau Keramas pada Pagi atau Malam Hari, yang Penting Proses Ini

YOUR TANGO

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."