Hanya 2,8 Persen Orang yang Sikat Gigi di Waktu yang Tepat, Ini Kesalahannya

Ilustrasi sikat gigi. boldsky.com

kesehatan

Hanya 2,8 Persen Orang yang Sikat Gigi di Waktu yang Tepat, Ini Kesalahannya

Selasa, 22 Maret 2022 20:59 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg. Usman Sumantri, M.Sc mengatakan kebiasaan menyikat gigi pada masyarakat Indonesia memang sudah baik, tetapi masih banyak di antara mereka yang keliru dalam penerapan waktunya. Hal tersebut merujuk pada data Riskesdas 2018 yang mencatat dari 94,7 persen masyarakat yang memiliki kebiasaan menyikat gigi setiap hari dua kali sehari. Sayang, hanya 2,8 persen orang yang telah sikat gigi di waktu yang tepat. Waktu yang tepat untuk menyikat gigi adalah pagi setelah makan dan malam sebelum tidur.

Ia mengatakan rata-rata orang sikat gigi saat mandi pagi sebelum sarapan, dan mandi sore lalu dilanjutkan makan malam. "Kebanyakan orang itu bangun tidur, sikat gigi, sarapan, berangkat ke sekolah atau ke kantor. Begitu juga mau mandi sore, dia sikat gigi, padahal seharusnya sikat gigi setelah makan dan sebelum tidur. Ini yang memang mesti diubah, perilaku orang sehingga kesehatan giginya bisa dipertahankan," kata Usman dalam konferensi pers virtual bertajuk ‘Jangan Tunggu Sampai Sakit Gigi, #KonsultasiGigiSekarang’, Selasa 22 Maret 2022.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg. Usman Sumantri, M.Sc/ Unilever

Selain permasalahan sikat gigi di waktu yang tepat, Usman juga menyoroti perbedaan pemahaman mengenai definisi "sakit gigi" antara praktisi kesehatan dengan masyarakat. Ia mengatakan saat ini masih banyak masyarakat yang berpikir bahwa sakit gigi berarti ketika sudah dalam kondisi berdenyut-denyut. Ketika mengalami gejala ini lah kebanyakan orang baru akan mengunjungi dokter gigi. "Kami menganggap gigi berlubang sedikit saja itu sudah 'sakit'. Sudah gejala-gejala perubahan pada warna gigi, mungkin ada spot-spot, itu sudah menunjukkan ke arah karies (gigi bolong)," ujar Usman.

Padahal, penting sekali mengunjungi dokter gigi secara teratur 6 bulan sekali. Hal ini agar masalah gigi bisa dideteksi lebih awal oleh dokter gigi. Akibat terlambat datang ke dokter gigi, kondisi gigi rata-rata sudah sangat rusak sehingga kebijakan mencabut gigi terkadang sebuah solusi. Gigi yang hilang karena dicabut bisa berdampak pula pada kondisi kesehatan seseorang. Usman mengingatkan bahwa kesehatan gigi sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup hingga rasa percaya diri terkait penampilan seseorang. "Belum lagi masalah estetikanya. Jadi kalau sudah banyak gigi hilang, otot-otot wajah juga akan terpengaruh, akan turun. Dan itu, barangkali mempercepat orang terlihat lebih tua dari umur sebenarnya," katanya.

Apabila kesehatan gigi terganggu, maka fungsi pengunyahan juga ikut terganggu sehingga dapat memicu masalah pada sistem pencernaan seseorang. "Akibat terganggu fungsi pengunyahan, maka pencernaan menjadi berat, absorpsi makanan juga akan terganggu. Jadi ke mana-mana efek dari orang kehilangan gigi, selain pengunyahan terganggu," ujar Usman.

Oleh sebab itu, Usman menekankan pentingnya pencegahan sejak dini agar kesehatan gigi tetap terjaga hingga usia tua dan jangan menunggu hingga sakit gigi baru pergi ke dokter. Ia juga menggarisbawahi pentingnya mengampanyekan edukasi dan promosi kesehatan gigi yang dilakukan di sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar. Ia berharap semakin banyak orang yang menjalani sikat gigi di waktu yang tepat. Ia pun berharap agar kualitas kesehatan gigi masyarakat Indonesia akan semakin bagus," katanya.

Baca: Sikat Gigi Setiap Hari, Ternyata Ini 5 Kesalahan yang Sering Dilakukan