Journaling Tidak Hanya Bisa Redakan Stres, Ini Lagi Manfaatnya Menurut Psikolog

Ilustrasi wanita menulis. Freepik.com/Wayhomestudio

kesehatan

Journaling Tidak Hanya Bisa Redakan Stres, Ini Lagi Manfaatnya Menurut Psikolog

Jumat, 11 Februari 2022 12:27 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Pandemi belum juga usai setelah nyaris 2 tahun berada di Indonesia. Bahkan karena kasus Covid-19 yang pun semakin naik, pemerintah kembali menyarankan masyarakat tetap berada di rumah. Salah satu dampak kesehatan mental akibat wabah ini adalah keluhan psikosomatis. Menurut Psikolog, Indah Sundari, mengatakan keluhan psikosomatis adalah contoh tantangan mental yang meningkat secara signifikan selama pandemi. “Artinya, seseorang bisa merasa sakit secara fisik tetapi tidak terdapat gejala fisik. Hal ini biasanya disebabkan oleh stres, panik, ataupun cemas. Burnout juga menjadi tantangan mental lainnya,” katanya dalam konferensi pers bersama Tokopedia pada 8 Februari 2022.

Keadaan ini mendorong masyarakat mencari berbagai kegiatan untuk mengisi waktu luang di rumah, contohnya berolahraga atau melakukan hobi. Salah satu kegiatan yang disarankan Indah adalah menulis alias journaling. Menulis jurnal harian dapat membantu seseorang untuk mengurai emosi-emosi negatif agar lebih mudah dipahami. “Selain menulis, perbanyak kegiatan membaca buku, contohnya terkait pengembangan diri,” kata Indah.

Journaling dalam hal ini, kata Indah, tidak harus di buku saja. Masyarakat yang lebih suka menulis di laptop atau gadget juga bisa melakukan journaling. "Esensi dari journaling itu menulisnya. Bagaimana kita mengungkapkan pikiran dan apa yang kita rasakan melalui tulisan," kata Indah.

Ia mengatakan orang yang stres biasanya memiliki banyak sekali pikiran di kepala. Sehingga dengan journaling, mereka bisa memetakan berbagai pikiran mereka. "Kadang kan kita overthinking, maka dengan dengan menulis kita bisa memetakan apa isi pikiran kita. Jadi kita pun bisa tahu bagaimana solusi dari masalah yang kita pikirkan," katanya.

Baca: Studi: Marah atau Stres Meningkatkan Risiko Stroke Sebanyak 30 Persen