Tak Harus Salmon, Ikan Patin Juga Bisa Jadi Sumber Lemak Baik dengan Harga Murah

Seorang pengunjung memotret ikan patin bakar yang jadi makanan populer di Kampung Patin, Desa Koto Masjid, Kampar, Riau, 10 September 2020. Ikan salai masih dicari pembeli karena bisa tahan hingga berminggu-minggu dan harganya relatif murah, yakni Rp70 ribu per kilogramnya. Ikan salai ini dipasarkan di Sumatera sampai mencanegara, seperti ke Brunai Darusalam, Malaysia, dan Singapura, yang dijual lewat perdagangan lintas batas. Ikan ini kerap dibuat menjadi gulai pucuk ubi, yang merupakan kuliner khas Melayu. ANTARA FOTO/FB Anggoro

kesehatan

Tak Harus Salmon, Ikan Patin Juga Bisa Jadi Sumber Lemak Baik dengan Harga Murah

Kamis, 27 Januari 2022 15:31 WIB
Reporter : Antara Editor : Mitra Tarigan

CANTIKA.COM, Jakarta - Di antara sumber lemak baik untuk kesehatan tubuh, ikan patin (Pangasius Sp) termasuk salah satunya dengan harga yang relatif terjangkau bagi sebagian Anda. Selain memiliki lemak baik, yaitu MUFA dan PUFA (omega-3 dan omega-6, ikan patin juga mengandung zat gizi makro berupa protein, lemak, dan karbohidrat. Hal itu diungkapkan oleh pakar gizi sekaligus Chief Marketing Officer (CMO) Dietela, Tri Mutiara Ramdani.

"Dengan harga yang lebih terjangkau, yaitu Rp15.000,00/kilogram, ikan patin mampu memberikan asupan asam lemak baik seperti halnya ikan laut (salmon, tuna, tenggiri), walaupun memang jumlahnya lebih sedikit,” ujar dia dalam siaran persnya, dikutip Kamis 26 Januari 2022.

Ikan patin juga mengandung komponen zat gizi mikro berupa kalium, kalsium, fosfor, zat besi, dan beta karoten yang mempunyai peran dan memberikan manfaatnya masing-masing untuk kesehatan tubuh.

Berdasarkan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (2017) yang disusun Kementerian Kesehatan, nilai gizi ikan patin per 100 gram bahan dapat dimakan mencakup 132 kalori, 17 gram protein, 6,6 gram lemak, dan 1,1 gram karbohidrat.

Dalam pengolahannya, ikan patin bisa dikreasikan dalam berbagai menu seperti nugget, bakso dan pempek seperti yang dipraktekkan Passionate homecook, Putri Habibie bersama Kelompok Ibu PKK Desa Ciroyom, beberapa waktu lalu.

Menurut pakar gizi dari Universitas Indonesia, Ulfa Teni Safira, S.Gz, ikan patin juga dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan menu fish and chips karena warna dagingnya yang putih dan teksturnya yang lembut mendekati ikan laut John Dory yang menjadi bahan dasar asli atau original dari menu fish and chips.

Walaupun dari segi rasa memang terasa perbedaannya. Ikan dory dominan rasa manis, sedangkan ikan patin dominan rasa gurih. Ulfa menyebutkan berbagai manfaat mengonsumsi ikan patin salah satunya meningkatkan asupan protein dari bahan makanan sumber protein yang rendah lemak. Ikan termasuk bahan makanan sumber protein yang secara alami rendah lemak.

Ikan patin seperti dikutip dari Junal Kesehatan Indonesia tahun 2016, mengandung 17 g protein/100 g BDD dan ketika pengolahannya direbus, kadar protein ikan patin yang dapat diasup jadi lebih tinggi (81,66 persen) dibandingkan dengan metode lain seperti memanggang danmenggoreng.

Oleh karena itu, menambahkan ikan patin sebagai lauk sehari-hari, terutama yang metode pengolahannya direbus (sup) sama dengan meningkatkan asupan protein sehari.

Konsumsi ikan patin juga bisa membantu menjaga kesehatan otak karena kandungan lemak baik dan juga vitamin serta mineral di dalamnya, menjaga kesehatan tulang dan gigi karena kandungan kalsium dan fosfor pada ikan.

Manfaat lain konsumsi ikan patin yakni menjaga kesehatan jantung karena kandungan lemak baik di dalamnya membantu menjaga kesehatan jantung dengan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL).

Selain itu, kandungan zat gizi pada ikan patin juga membantu ibu hamil agar tidak anemia karena mengandung protein dan zat besi, juga dapat membantu mengoptimalkan tumbuh kembang janin, baik dari perkembangan otak sampai dengan organ tubuh lainnya.