Lewat Cerita, IHHW 2021 Ditutup dengan Mengenang Sejarah Jakarta yang Eksotis

Suasana sepi di alun-alun Museum Fatahillah di Kawasan Kota Tua di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2020. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

ragam

Lewat Cerita, IHHW 2021 Ditutup dengan Mengenang Sejarah Jakarta yang Eksotis

Minggu, 31 Oktober 2021 23:45 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Ecka Pramita

CANTIKA.COM, Jakarta -  Dalam rangka mendukung Tahun Kebangkitan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kreatif Hub Indonesia Hidden Heritage (IHH) menggelar festival virtual Indonesia Hidden Heritage Week atau IHHW 2021. Festival tersebut diisi dengan beragam kegiatan untuk mempromosikan daya tarik wisata sejarah dan budaya.

"Pertunjukan produk sejarah dan budaya dalam bentuk festival menjadi produk wisata yang tidak kalah menarik daripada destinasi wisata lain seperti wisata alam dan religi,” kata Founder sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Hidden Heritage Nofa Farida Lestari dalam keterangannya, Selasa, 26 Oktober 2021.

Menurut Nofa, kemelekatan nilai sejarah budaya daerah pada sebuah destinasi wisata memiliki keunikan yang menarik untuk dikunjungi. Festival ini, kata dia, juga bermaksud mewadahi itu.

"Tapi lebih dari itu, IHHW memberi pengalaman estetis serta menjadi ruang diskusi dan edukasi sejarah budaya bagi setiap pemerintah, masyarakat serta semua pemangku kepentingan," kata Nofa.

Karena itu, pihaknya menggelar beragam kegiatan yang merepresentasikan kekayaan wisata sejarah secara keseluruhan melalui webinar, talkshow dan virtual tour yang mengangkat situs-situs warisan dunia di Indonesia, nostalgia ke kantor-kantor pos kuno serta potensi destinasi wisata di kepulauan-kepulauan terluar.

IHHW 2021 juga membuka ruang untuk memperkaya wawasan dari sharing story dengan direktur Museum Westfries di Beland, direktur The National Museum and Research Center of Altamira Spanyol dan Kurator the National Railway Museum Australia.

Penulis Sastra Klasik Posya Marenda saat menarasikan ulang dua karya sastra yang memuat sejarah Jakarta, Sabtu 30 Oktober 2021 di Huize Triverli/Foto: Ecka Pramita

Sebagai rangkaian acara penutup diisi dengan renarasi atau menceritakan dua karya fiksi yang memggambarkan sejarah Kota Jakarta di masa lampau yang dibacakan oleh Posya Marenda, Sabtu 30 Oktober 2021. Bertajuk Rendevouz, peserta yang hadir dibawa mengenang Jakarta tak hanya melalui cerita, tetapi juga hidangan khas biskuit spekulas.

Bertempat di restoran klasik Huize Triverli, Posya membacakan cerita berjudul Terang Bulan Terang di Kali dan Nyai Dasima dengan gaya storytelling. Menurut Posya yang berdarah Indonesia-Belanda ini dirinya sangat kagum dengan kehidupan masyarakat Betawi di Batavia (Jakarta).

"Mereka tetap berusaha mencari nafkah untuk memperbaiki kesejahteraan ekonomi. Segala jenis pekerjaan rakyat strata terbawah ada di novel-novel fiksi bertema sejarah Jakarta pra dan pasca-kemerdekaan. Mereka berjuang bekerja sesuai kemampuan dengan keterbatasan di era kolonial," ucap Posya yang juga member komunitas Nulis Aja Dulu ini. 

Menurut Penulis Sastra Klasik ini, mempelajari sejarah melalui karya fiksi sangat penting sebagai referensi kehidupan kita. Terutama literasi sebagai bukti peradaban bangsa. "Saya sangat berharap, agar setiap generasi semakin gemar membaca, menulis, menganalisa, dan menceritakan kembali berbagak literasi sastra klasik," harapnya.

Rangkaian acara lainnya telah digelar pada 21-30 Oktober, antara lain webinar bertajuk ‘Situs-Situs Warisan Dunia di Indonesia’, virtual tour ‘Situs Pertambangan Batubara Ombilin’ dan ‘Jelajah Kuliner Tanah Papua’. talkshow ‘Museum & Gallery Live Talk: from the Post Museum with Love’ di Instagram @indonesiahiddenheritage, ‘Jelajah Kisah 10 Kantor Pos Tua di Indonesia’, ‘Temu Komunitas: Travel Your City Heritage’ melalui Zoom dan ‘Hobbyist Talk: Perangko & Kartu Pos Terunik di Indonesia’ di IG Live @indonesiahiddenheritage, ‘Online Workshop: Kelas Heritage Sketching’ dan ‘Nobar Film Surat Cinta untuk Kartini’.

Baca: Rilis Novel Terbaru, Dita Soedarjo: Hidup di Jakarta Jangan Baper

NINIS CHAIRUNNISA