Pandemi Bikin Penjualan Turun, Digitalisasi Produk Jadi Salah Satu Solusi

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Mitra Tarigan

google-image
Ops Rumpi bareng Lazada Rabu 22 September 2021/lazada

Ops Rumpi bareng Lazada Rabu 22 September 2021/lazada

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Semakin banyak brand yang memutuskan memasarkan produknya melalui pasar digital. Yang tadinya mereka berjualan di toko offline saat ini mereka memilih toko online sebagai etalase mereka melalui marketplace atau pasar digital. Digitalisasi produk menjadi salah satu solusi untuk mengatasi tantangan bisnis di kala pandemi. Melakukan digitalisasi brand ternyata mampu memperluas jangkauan pasar hingga terjadinya peningkatan penjualan.

Brand Manager La Mer Indonesia, Sarah Damanik mengatakan bahwa strategi menggunakan marketplace, pasar digital, sebagai media digitalisasi terbukti sukses untuk memasarkan produknya. Dalam acara Rumpi Bareng Lazada pada Rabu, 22 September 2021, Sarah menceritakan bagaimana kesuksesan yang berhasil diraih La Mer setelah memutuskan untuk digitalisasi brand pada Agustus 2021 lalu. “Ketika kita akhirnya launching (luncurkan) secara digital di tanggal 12 Agustus kemarin, mungkin saya cuma punya dua kata untuk menggambarkan result kemarin, beyond expectation (di luar ekspektasi) kita,” kata Sarah.

“Kemarin waktu kita rilis di Lazada, itu pembelanjaan atau customer (pelanggan) kita dari Sabang sampai Merauke,” kata Sarah.

Sarah menjelaskan dengan keputusan La Mer untuk mendigitalisasikan produknya, berdampak sangat baik bagi brand dan produk. Dia menyebutkan bahwa La Mer Indonesia berhasil menjangkau pasar lebih banyak dan meningkatkan penjualan hingga menjadi negara dengan penjualan produk La Mer tertinggi ke-2 di Asia Tenggara. “Hasilnya, kita jadi negara nomor dua dengan penjualan paling tinggi setelah Thailand,” kata Sarah.

Sebagai brand dengan kategori produk premium, merek dan produk dagang yang memiliki kualitas dan harga tinggi, membuat keputusan untuk digitalisasi harus melalui pertimbangan yang matang. Namun Sarah mengungkapkan pertimbangan La Mer untuk beralih ke marketplace, Lazada Mall, karena adanya penurunan penjualan selama pandemi terutama pada toko yang berada di pusat perbelanjaan. “2 tahun lalu waktu sebelum pandemi ini dimulai, kita baru ada store di mall terkemuka di Indonesia, waktu itu kita belum merasa ada kebutuhan untuk go online,” kata Sarah.

“Tapi kemudian pandemi menyerang kita, mungkin waktu itu 2 bulan sempat toko tutup,” lanjut Sarah.

Selain karena penurunan penjualan akibat toko ditutup, pertimbangan lain dari La Mer hingga memutuskan untuk meluncurkan toko online adalah tingginya minat untuk produk premium selama pandemi ini. Bahkan Sarah mengungkapkan bahwa luxury produk (produk mewah) telah menjadi trend terutama selama pandemi. “Di Indonesia kita melihat trend itu ada mungkin 2 tahun lalu, cuma yang mungkin diluar ekspektasi kita adalah ketika pandemi hit us (menyerang kita), kurang lebih dimulai Maret 2020 ya, itu kita melihat satu angka penjualan yang terus meroket di Indonesia, berarti memang keinginan orang-orang untuk belanja luxury skincare meningkat,” kata Sarah.

Dengan pertimbangan tersebut, La Mer mulai menggunakan strategi digitalisasi brand hingga dapat memperluas dan meningkatkan penjualan.

Baca: Stres Meningkat, Pentingnya Dukungan Mental pada Pelajar Selama Pandemi

FAHIRA NOVANRA

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."