Rayakan Kemerdekaan, Aliya Rajasa Menjelma Bak Putri Solo Berkebaya Beludru

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Ecka Pramita

google-image
Aliya Rajasa dalam balutan kebaya karya Ghea Panggabean/Foto: Instagram: Aliya Rajasa

Aliya Rajasa dalam balutan kebaya karya Ghea Panggabean/Foto: Instagram: Aliya Rajasa

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Tidak bisa merayakan kemerdekaan dengan seperti biasa penuh gegap gempita, bukan berarti tidak ikut larut dalam momen sakralnya. Terdapat banyak cara memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan HUT RI, seperti tradisi yang biasa dilakukan oleh keluarga publik figur Aliya Rajasa.

Aliya Rajasa mengunggah sejumlah foto saat ia menampilkan busana ada berupa kebaya dan bersama keluarga tercinta dengan latar belakang bendera merah putih. Dalam foto yang diunggah di laman instagram-nya pada selasa, 17 Agustus 2021, perempuan kelahiran 26 April 1986 ini mengenakan kebaya hitam beludru.

Suami tercinta Edhie Baskoro Yudhoyono mengenakan seragam resmi berupa setelan jas dan dasi merah, kedua putranya Airlangga Satriadhi Yudhoyono dan
Pancasakti Maharajasa Yudhoyono kompak dengan sang ayah mengenakan setelan jas warna biru. Sementara putri ketiganya Gayatri Idalia Yudhoyono tampil seperti putri memakai blouse berbahan tule warna fuschia dengan aksen ruffle.

Aliya Rajasa bersama keluarga memperingati HUT RI/Foto: Instagram/Aliya Rajasa

"Dirgahayu Indonesiaku yg ke 76 Doa dan Semangat dari kami agar Negara kita tercinta Cepat pulih dan bisa normal kembali, doa dan bakti kami selalu #DirgahayuIndonesia," harap Aliya Rajasa.

Menilik kebaya model Kartini yang dikenakan oleh putri Hatta Rajasa ini, berdasar informasi yang dihimpun oleh Cantika, merupakan karya desainer Indonesia Ghea Panggabean. Untuk kainnya, menurut Founder Komunitas Diajeng Semarang, Maya Dewi mengatakan kain jarik yang dikenakan Aliya bermotif dominan lar gurda kecil dengan warna sogan dan latar hitam. 

"Ciri khas kain dari Solo cenderung pakai sogan, sementara dari Pekalongan itu masuk ke kategori pesisiran, cenderung warna terang dan warna-warni. Batik yang dikenakan Aliya bukan termasuk batik pedalaman atau keraton yang ada nama pakemnya," ucap Maya saat dihubungi Cantika.com melalui pesan cepat, Selasa, 17 Agustus 2021. 

Busana ini biasa disebut juga sebagai dodot yang kerap digunakan di daerah Solo dan Jawa Tengah secara umum. Tradisi Solo Basahan diketahui berasal dari lingkungan keraton. Pakaian adat ini memiliki makna dan filosofi yang dalam, di mana dalam busana ini mengandung simbol berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Simbol itu berada di setiap elemen tata rias hingga busana yang digunakan.

"Nrimo ing pandum... Makaryo ing nyoto," tulis Aliya dalam bahasa kromo inggil, yang kurang lebih maknanya "menerima segala pemberian/ keadaan” jika dalam kajian yang lebih luas bisa juga berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam kehidupan atau “legowo” dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan.

Sebagai informasi, Ghea Panggabean sendiri merupakan salah satu desainer yang kerap menghadirkan kebaya “gaya baru” menggunakan material sutera organdi dengan sulaman khas keraton. Ghea pun berhasil meyakinkan bahwa kebaya bisa dipakai sebagai busana kontemporer dengan padu padan tidak terbatas hanya dengan kain panjang atau sarung.

Baca: Rayakan Ulang Tahun Kakak Ipar, Aliya Rajasa Kompak Pakai Motif Tartan

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."