Cerita Instruktur Kebugaran Bangkit Lagi di Masa Pandemi Covid-19

ilustrasi senam. Unsplash.com/Mark Zamora

profil

Cerita Instruktur Kebugaran Bangkit Lagi di Masa Pandemi Covid-19

Sabtu, 20 Juni 2020 10:33 WIB
Reporter : Praga Utama Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Tanpa satu alat bantu apa pun, Edoardo S.M. melakukan sejumlah gerakan olahraga di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang tamu rumah kebanyakan. Gerakan Edo, panggilan akrab Edoardo, dalam video berdurasi 13 menit itu dimulai dengan pemanasan. Ia mengajak penonton berdiri tegak, lalu membungkukkan badan sebanyak delapan kali. "Ini untuk mengaktifkan otot-otot di punggung dan kaki," ia menjelaskan. Setelah beberapa gerakan lain yang dilakukan selama 3 menit lebih, Edo lalu masuk ke menu utama.

Gerakan olahraga pertama adalah melakukan gerakan push-up tapi dengan posisi tubuh berdiri. Bagian tangan menempel ke tembok, sementara kaki menempel di lantai. "Latihan ini adalah berdasarkan waktu, bukan jumlah gerakan, lakukan selama 40 detik," perintah Edo. Setelah itu, ia mengajak peserta beristirahat selama 30 detik. Berikutnya, ia mencontohkan gerakan lain. Masih dengan posisi berdiri dan memanfaatkan tembok di ruangan itu. Total ada tujuh gerakan yang diperagakan Edo dalam video tersebut.

Video ini salah satu contoh konten YouTube olahraga daring yang diproduksi Edo dan kawan-kawannya sesama pegiat olahraga kebugaran (fitness). Mereka mengunggah video itu di akun #bugartanpabatas dengan tujuan agar bisa ditonton banyak orang secara gratis. "Temanya adalah workout from home alias olahraga di rumah," kata Edo. "Supaya orang-orang yang masih work from home (bekerja dari rumah) tetap bugar sampai nanti kondisi kembali normal."

Badan kesehatan PBB, World Health Organization (WHO), sejak pengumuman pandemi Covid-19 pada awal 2020 memang kerap mengkampanyekan aktivitas fisik di rumah untuk menjaga kebugaran. WHO mendorong aktivitas fisik dilakukan selama minimal 30 menit untuk orang dewasa dan 1 jam untuk anak-anak. Beberapa gerakan sederhana yang dianjurkan WHO, antara lain, naik-turun tangga, peregangan, berdansa mengikuti musik, atau mengikuti kelas olahraga online.

Edo, yang sudah puluhan tahun berpengalaman di dunia olahraga kebugaran, baru kali ini tergerak untuk membuat konten tutorial olahraga. Gara-garanya, apa lagi kalau bukan pandemi Covid-19. Sebagai instruktur yang punya jadwal padat mengajar orang di gimnasium maupun secara privat, Edo sempat kehilangan sejumlah kliennya pada masa-masa awal pandemi Covid-19. "Banyak anggota gimnasium yang tak meneruskan keanggotaan, gym tempat saya bekerja juga tutup sementara sewaktu pembatasan sosial mulai diberlakukan," ujar pelatih di gimnasium Infinite Fit Camp, Senayan, itu.

Dia sempat menyangka bakal banyak menganggur selama pandemi, namun justru jadwal kegiatannya mengajar olahraga jadi lebih padat. Sejumlah klien Edo meminta tetap diadakan latihan olahraga secara daring. Caranya, dari memakai aplikasi telekonferensi Zoom, video call pakai WhatsApp, sampai siaran langsung di akun Instagram. Sejumlah komunitas dan perusahaan juga mengajak Edo berkolaborasi membuat konten-konten edukasi kebugaran dan tutorial olahraga ringan di rumah seperti yang ia buat untuk kanal YouTube-nya.

Selain bersama gimnasiumnya, Edo rutin mengisi kelas bersama komunitas Idea Run dan mengisi konten untuk media sosial PT MRT Jakarta. "Temanya sama, menjaga kebugaran selama work from home dengan cara mudah dan praktis tanpa alat," tuturnya. Namun, untuk membedakan konten olahraga miliknya dengan konten video serupa yang bertebaran di mana-mana, Edo membuat sejumlah keunikan. "Karena temanya olahraga di rumah, jadi saya memanfaatkan benda-benda yang bisa ditemukan di setiap rumah."

Selain contoh olahraga menggunakan tembok seperti diuraikan di atas, Edo membuat gerakan-gerakan latihan kekuatan otot menggunakan keset, sapu, handuk, hingga seprai tempat tidur. Untuk keset, kata Edo, digunakan sebagai alat bantu gerakan bernama atomic push-up. "Jadi, gerakannya seperti push-up biasa, tapi ketika badan diangkat, kaki ikut menekuk ke arah perut. Nah keset dipakai untuk mempermudah menggeser kaki," kata dia.

Sementara itu, seprai bisa dimanfaatkan dengan cara dikaitkan ke lubang angin di atas kusen pintu rumah, disimpul kedua ujungnya, lalu jadi alat latihan otot lengan. "Caranya, kita setengah berbaring, lalu mengangkat tubuh dengan kedua tangan sambil menarik seprai." Semua gerakan yang dijelaskan Edo itu lazim dilakukan di gimnasium.

Selain berguna untuk memperkuat otot tubuh, sejumlah gerakan yang disebut latihan fungsional (functional training) itu juga dilakukan untuk memperbaiki postur tubuh, serta meningkatkan kapasitas aerobik (jantung dan paru-paru) dan daya tahan tubuh. "Metodenya bisa berdasarkan durasi atau jumlah repetisi gerakan, sesuai kebutuhan," ia melanjutkan. Namun semua gerakan itu dilakukan dengan intensitas ringan dan sedang, karena pesertanya beragam dari pemula sampai mereka yang sebelum pandemi sudah rutin berolahraga.

Edo mengaku, selama tiga bulan terakhir, hampir setiap hari ia mengisi kelas olahraga daring. Setidaknya ada tiga program saluran yang rutin ia isi: ZoomFit Idea Run dan Infinite Online menggunakan aplikasi Zoom, serta kelas privat bersama klien perorangan yang dilakukan langsung lewat telepon video. "Rekor peserta kelas online terbanyak yang pernah saya latih sebanyak 63 orang." Sedangkan saat di luar masa pandemi, peserta kelas olahraga Edo biasanya hanya belasan orang. Hal ini, kata Edo, menunjukkan bahwa minat orang untuk berolahraga selama masa pembatasan sosial memang tinggi.

Tingginya jumlah peminat kelas olahraga online jugalah yang mendorong instruktur zumba dan strongnation, Laila Achmad, 35 tahun, membuat kelas daring. Mulanya Laila, yang aktif mengajar di studio kebugaran Bloom dan Bodyfit, Jakarta Selatan, enggan mengikuti koleganya membuat kelas-kelas melalui aplikasi telekonferensi. Soalnya, kata dia, olahraga zumba yang ia tekuni sangat sulit dilakukan dengan cara siaran langsung.

"Karena zumba itu gerakannya mengikuti irama lagu, sementara kalau koneksi Internet jelek, suara dan gambar bisa patah-patah dan tidak nyambung, sesi olahraganya jadi tidak maksimal," kata dia. Tapi, di awal masa PSBB, April lalu, hampir semua boutique gym (gimnasium kelas butik yang eksklusif dan keanggotaannya terbatas) banyak menggelar program daring.

Studio kebugaran tempat Laila bekerja pun mengikuti tren itu. Untuk memaksimalkan kelas daring itu, Laila mengeluarkan modal jutaan rupiah untuk membeli peralatan tambahan. "Aku beli penyeimbang sinyal Internet, lampu sorot, dan headset wireless."

Sayangnya, usaha itu sia-sia karena sinyal Internet di rumah Laila tetap buruk. Beberapa kali ia punya pengalaman buruk, seperti koneksi tersendat saat sedang mengajar, gambar dan suara tidak sinkron, sampai tak bisa tersambung ketika kelas baru akan mulai. "Hal-hal teknis ini bikin mood jadi berantakan," ujarnya.

Gangguan non-teknis juga bukannya tak ada. Karena Laila mengajar secara live dari kediamannya, sering kali sesi latihannya terganggu ketika ada kurir pengantar paket atau tukang ojek online datang. Meski begitu, jumlah peminat kelas zumba online tetap tinggi. Laila bercerita, di kelas fisik ia biasa mengajar 25-30 orang setiap sesi. Namun, di kelas daring, pesertanya bisa lebih 70 orang. "Yang ikutan juga bukan hanya anggota studio yang kenal Laila, tapi juga orang lain dari berbagai kota, bahkan luar negeri seperti Jepang dan Australia."

Hal ini dimungkinkan karena Laila juga membuka sesi daring pada platform Zumba.com. Di situs ini, para instruktur zumba bisa mengunggah video yang hanya bisa diakses oleh orang-orang yang mendaftar dan membayar. Awalnya, Laila tak menetapkan harga untuk sesi online ini. Tapi belakangan ia mematok harga Rp 35 ribu per sesi. Teknis kelasnya juga cukup unik, bukan berupa siaran langsung, melainkan peserta berolahraga pada waktu yang sama. "Jadi, video di platform Zumba.com itu hanya bisa diakses pakai link dan password, nanti dibatasi masa tayangnya sekitar 5 jam. Habis itu, terhapus otomatis," tuturnya.

Dengan cara ini, Laila pun bisa memproduksi video kelas zumba yang lebih layak dan bebas dari gangguan koneksi Internet. Untuk menjaga kelas tetap hidup dan tak membosankan, Laila pun berakting saat mengajar dengan memberikan semangat kepada peserta “virtual”. “Ngoceh aja biar heboh, padahal ngomong ke kamera,” ujarnya, berseloroh. Selain untuk menjaga semangat peserta, suasana semacam ini, kata Laila, memang biasa terbangun dalam setiap kelas zumba di dunia nyata. “Zumba itu harus fun, gerakannya juga tidak terbatas, yang penting mengikuti irama musik.”

Karena hal itulah, menurut Laila, zumba merupakan salah satu olahraga yang paling cocok dilakukan di masa pandemi dan lewat konten video. “Karena gerakan bebas, instruktur tidak perlu mengoreksi postur atau gerakan peserta.” Ini berbeda dengan olahraga kebugaran lain, seperti functional training. Dalam olahraga tersebut, posisi dan postur tubuh harus benar agar gerakan olahraga yang dilakukan bisa efektif dan efisien, serta mengurangi risiko cedera.

Laila dan Edo cukup beruntung karena bidang olahraga yang mereka tekuni bisa dilakukan tanpa memerlukan banyak alat bantu dan tempat khusus. Untuk para instruktur dan pelatih olahraga seperti renang, situasi pandemi dan pembatasan sosial sempat membuat mereka mati gaya. Andri Rahadian salah satunya. Pelatih renang pendiri lembaga pelatihan akuatik khusus balita dan anak-anak, Kelas Berenang, itu harus putar otak agar tetap beraktivitas selama masa pembatasan sosial. “Awal-awal waktu belum ada pembatasan sosial, kami masih bisa membuka kelas, tentu saja dengan protokol kesehatan yang ketat. Tapi, begitu ada aturan pembatasan sosial, kami stop sama sekali,” ujarnya.

Olahraga renang yang dilakukan di fasilitas renang modern, menurut sejumlah penelitian, sebetulnya aman dan rendah risiko penularan virus corona. Karena air kolam renang mengandung klorin, yang bisa membunuh virus dan kuman. Tapi risiko penularan tetap ada, terutama di kolam renang publik di mana banyak fasilitas dipakai bersama-sama. Kelas Berenang sendiri sejauh ini punya 150-an peserta anak-anak dan balita dan 22 pelatih yang biasa membuka kelas di kolam renang publik di Depok dan Bekasi, Jawa Barat; serta Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

Karena kelas reguler tutup, Andri pun membuat program pelatihan online untuk peserta umum dalam bentuk seminar di situs Internet (webinar). Materi yang ia ajarkan bukanlah teknik berenang, melainkan cara melatih berenang anak usia bayi dan pra-sekolah, tahapan dasar melatih renang untuk pemula, atau manajemen kelas pada pembelajaran renang. Jadwal acara itu ia umumkan melalui akun Instagram dan Facebook Kelas Berenang.

Di luar itu, Kelas Berenang rutin mengadakan telewicara bersama instruktur renang, atlet, hingga penjaga keamanan kolam renang (lifeguard) untuk materi pertolongan pertama. “Temanya masih terkait dengan dunia akuatik dan dikaitkan dengan keseharian yang bisa diaplikasikan oleh para orang tua,” ujarnya.

Rupanya, kelas-kelas itu tak cuma diminati para instruktur dan pelatih renang. Masyarakat umum juga banyak mengikuti webinar Andri. Menurut pria pemilik sertifikasi dari lembaga pelatihan renang Australia AUSTSWIM itu, materi pelatihan renang untuk anak usia dini dan pelatihan keselamatan di kolam renang adalah materi yang banyak diminati para orang tua.

Belakangan, saat pembatasan sosial mulai dilonggarkan dan sejumlah fasilitas olahraga diperbolehkan buka kembali, Kelas Berenang pun kembali beroperasi. “Para orang tua sudah banyak yang meminta kelas dibuka lagi, karena kasihan anak-anak mereka sudah bosan di rumah,” tuturnya.

Pekan lalu, ia mulai mencoba membuka kembali sekolah renangnya di Depok. "Tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat." Contohnya, kata dia, para pelatih harus benar-benar sehat jika hendak mengajar. Saat sedang melatih, para instruktur juga memakai tameng wajah (face shield) plastik serta sarung tangan karet. Mereka juga diwajibkan meminimalkan kontak fisik. Setiap pelatih hanya menangani sedikit anak didik dan tak bergantian. "Sebelumnya, setiap sesi kelas, pelatihnya bisa berbeda-beda," kata dia.

Untuk peserta, Andri menerapkan aturan ketat: jika sakit, sebaiknya tak mengikuti kelas. Anak-anak hanya boleh diantar dan ditunggui oleh satu orang anggota keluarga. Lalu, saat berada di area kolam renang, mereka wajib memakai masker dan dilarang berkerumun.

"Kami juga memastikan kepada pengelola fasilitas olahraga agar rutin melakukan disinfeksi lingkungan dan benda-benda yang ada di sana," ia menambahkan. Ke depan, Andri juga berniat membuka kembali pendaftaran untuk peserta baru Kelas Berenang. "Tapi mungkin pesertanya dibatasi sampai kondisi kembali stabil."