4 Pemicu Impulse Buying, Diskon dan Produk Bonus

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Ilustrasi gila belanja. Shutterstock

Ilustrasi gila belanja. Shutterstock

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Impulse buying atau belanja impulsif bisa berisiko untuk kondisi keuangan Anda, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini. Sebab sejumlah perencana keuangan menyarankan kita dalam posisi bertahan atau survival mode dan mengutamakan kebutuhan pokok untuk stabilitas keuangan selama beberapa bulan ke depan. 

Menurut kamus Cambridge, impulse buying adalah keputusan untuk membeli suatu barang yang sebelumnya tidak Anda rencanakan sebelumnya. Ciri khas impulse buying sangat sederhana, yakni Anda melihat barang itu, kemudian tanpa pikir panjang langsung membelinya di saat itu juga.

Makanan, pakaian, sepatu, serta barang-barang kebutuhan rumah tangga merupakan hal yang paling sering menjadi sasaran impulse buying. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan juga Anda akan membeli barang lain tanpa pikir panjang. 

Lantas, apa saja faktor yang memicu impulse buying? Berikut empat di antaranya melansir dari laman Sehatq

1. Diskon

Normalnya, Anda akan berpikir panjang mengenai harga dan kegunaan sebuah barang sebelum membeli. Namun ketika ada diskon, pertimbangan ini akan luruh.

Bahkan, tidak jarang muncul rasa bersalah jika Anda tidak segera membeli barang tersebut karena ada kemungkinan Anda harus membeli barang itu di masa mendatang dengan harga normal. Inilah yang dinamakan dengan loss aversion switch.

2. Bonus

Pernahkah Anda belanja barang hanya karena mereka menawarkan produk bonus? Tidak jarang ada produsen yang menyertakan kata-kata seperti ‘beli 2, gratis 1’ atau ‘isi lebih banyak’ untuk memantik impulse buying yang ada pada diri Anda.

Bonus yang terdapat pada produk akan membuat Anda berpikir bahwa barang tersebut memiliki nilai tambah dibanding barang sejenis. Kesan ini tidak jarang membuat kita lengah sehingga tidak meneliti lebih jauh apakah produk tersebut memang berkualitas.

3 Shopaholic

Salah satu alasan paling sederhana dari impulse buying adalah karena Anda suka berbelanja. Dalam kasus yang ekstrem, Anda bisa berubah menjadi shopaholic alias penggila belanja.

Ketika membeli barang-barang baru, Anda merasa seperti disuntikkan energi baru dan kesenangan sesaat. Anda tidak peduli bahwa barang tersebut tidak memiliki kegunaan bagi Anda di masa kini maupun masa depan.

4. Investasi

Pertimbangan lain ketika Anda melakukan impulse buying adalah soal nilai barang yang diprediksi akan meningkat di masa depan sehingga Anda berpikir itu layak untuk segera dibeli. Misalnya, ketika Anda menimbun banyak masker, hand sanitizer, hingga bahan kebutuhan pokok di tengah pandemi.

SEHATQ 

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."