Cara Atasi Kecemasan Naik Angkutan Umum saat Pandemi Covid-19

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Silvy Riana Putri

google-image
Penumpang duduk di bangku yang telah diberi stiker panduan jarak antarpenumpang di rangkaian gerbong kereta MRT, Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020. Sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus Corona atau COVID-19, pemerintah telah memberikan arahan kepada seluruh masyarakat untuk mulai menerapkan praktik

Penumpang duduk di bangku yang telah diberi stiker panduan jarak antarpenumpang di rangkaian gerbong kereta MRT, Jakarta, Jumat, 20 Maret 2020. Sebagai tindakan pencegahan penyebaran virus Corona atau COVID-19, pemerintah telah memberikan arahan kepada seluruh masyarakat untuk mulai menerapkan praktik "social distancing" atau menjaga jarak sosial dalam kegiatan sehari-hari. ANTARA

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Beberapa orang tetap bekerja di luar rumah kala pandemi virus corona baru atau Covid-19. Misalnya orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan, pangan, energi, logistik hingga keuangan. 

Bagi yang tak memiliki kendaraan pribadi, mereka menaiki angkutan umum, seperti kereta, transjakarta, bus, atau angkot untuk tiba di kantor. Saat harus naik angkutan umum, kerap muncul perasaan waswas dan tidak nyaman karena risau tertular virus corona. 

Mellia Christia, psikolog dan staf pengajar bidang studi Psikologi Klinik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mengatakan wajar ketika seseorang merasa waswas saat naik kendaraan umum. Justru jika merasa biasa-biasa saja itu yang berbahaya karena akan kehilangan kontrol sehingga tidak dapat menjaga keamanan diri sendiri.

“Memang, dalam kondisi ini kita tidak dapat mengontrol gerakan orang lain. Tapi, kita bisa mengontrol diri sendiri dengan cara meyakinkan bahwa kita sudah melindungi diri dengan peralatan atau perlengkapan yang dianggap aman, seperti memakai masker atau sarung tangan, menjaga jarak, dan mencoba menjauh ketika ada yang mendekat,” ujarnya.

Selain merasa paranoid atau parno menaiki kendaraan umum, tidak sedikit pula karyawan yang tiba-tiba merasa sakit, seperti batuk, sakit tenggorokan, dan lainnya saat ke luar rumah menuju ke kantor. Padahal, saat di rumah semua baik-baik saja.

Menurut Mellia, sakit yang dirasakan tersebut sebetulnya hanya ada di dalam pikiran sehingga hal pertama yang harus diubah adalah cara pandang terhadap situasi di luar rumah, khususnya di kantor. Selain itu, cara pandang yang menganggap kantor sebagai sumber stres justru akan memperparah keadaan yang menimbulkan rasa cemas berlebih.

“Maka, sebelum berangkat ke kantor harus pastikan diri kita sehat, lindungi diri sehingga merasa aman dan nyaman serta tidak akan tertular apapun oleh siapa pun. Jangan lupa untuk menjaga imunitas diri, pola makan, dan kesehatan. Itu semua harus disinergikan sehingga akan mempengaruhi pikiran bahwa semua baik-baik saja,” jelasnya.

Pastikan Anda memakai masker saat ke luar rumah dan jaga jarak selama berada di dalam angkutan umum. Tak lupa, bawa hand sanitizer untuk menjaga kebersihan tangan selama di dalam kendaraan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa kantor selalu dalam kondisi steril dan selalu dibersihkan dengan disinfektan sehingga akan memberi jaminan dan kenyamanan bagi para pegawai. Saat di kantor, jangan lupa untuk menjaga jarak aman ketika berkomunikasi dengan rekan.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."