Bukan Cuma Covid-19, Waspada Juga Penyakit Musim Pancaroba

foto-reporter

Reporter

foto-reporter

Editor

Rini Kustiani

google-image
Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

IKLAN

CANTIKA.COM, Jakarta - Masyarakat sedang menghadapi pandemi Covid-19 dan menjalani Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Selain berupaya menangkal Covid-19, masyarakat diharapkan jangan abai terhadap penyakit musiman, terutama yang kerap muncul di masa pancaroba.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Achmad Yurianto mengingatkan bahaya peningkatan kasus demam berdarah dengue atau DBD di Tanah Air. "Pada bulan-bulan ini ada peningkatan kasus demam berdarah karena musim pancaroba," kata Yurianto saat konferensi video di Jakarta, Sabtu 2 Mei 2020.

Demam berdarah berkaitan erat dengan pengendalian nyamuk yang menjadi vektor penyakit tersebut. Sebab itu, masyarakat diminta untuk terus memberantas sarang nyamuk guna menghindari demam berdarah dengue.

Apabila pemberantasan sarang nyamuk dilakukan secara rutin, maka tidak hanya Covid-19 yang dapat diatasi, namun juga demam berdarah. "Mari kita menjadi teladan untuk keluarga masing-masing. Hal itu termasuk menyelamatkan tetangga, lingkungan, dan bangsa," kata Yuri yang juga Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19.

Ilustrasi nyamuk demam berdarah (pixabay.com)

Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan hingga 30 April 2020 tercatat ada 50.112 kasus demam berdarah dengue di Tanah Air. Dari kasus tersebut, sebanyak 315 orang di antaranya meninggal dunia.

Tercatat ada lima kabupaten dan kota dengan kasus demam berdarah dengue tertinggi. Urutannya, Kabupaten Buleleng sebanyak 2.057 kasus, Kabupaten Sikka 1.624, Bandung 1.355, Kota Denpasar 858, dan Kabupaten Pringsewu 844 kasus.

Terkait sebaran kasus kematian akibat demam berdarah dengue, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati urutan pertama dengan 52 kematian. Selanjutnya Provinsi Jawa Tengah 39 jiwa, Jawa Barat 33 dan Jawa Timur 32 kasus kematian.

Iklan

Berita Terkait

Rekomendasi Artikel

"Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini."