Psikolog Duga Remaja Pembunuh Balita Punya Trauma hingga Kesepian

Ilustrasi kekerasan pada anak. youtube.com

ragam

Psikolog Duga Remaja Pembunuh Balita Punya Trauma hingga Kesepian

Selasa, 10 Maret 2020 11:10 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Kasus remaja pembunuh balita terus menjadi perhatian publik. Remaja, NF, 14, mengaku membunuh balita berusia 5 tahun, APA, di rumahnya di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat pada Kamis, 5 Maret 2020. Hingga saat ini, aparat kepolisian beserta para ahli jiwa dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati masih di tahap memastikan kondisi psikologis si remaja.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Yusri Yunus mengatakan, aksi tersebut diduga dilatari karena kerap menonton film horor sadistis.

“Pengakuannya, tersangka pembunuhan melakukan aksinya secara spontan karena sering nonton film horor,” kata Yusri di Mapolres Metro Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Maret 2020.

Psikolog Anisa Cahya Ningrum menilai kasus ini tergolong luar biasa yang perlu penanganan hati-hati dan cermat. Perilaku ini ibarat gunung es yang muncul ujungnya saja. Di luar dugaan bahwa ia melakukan aksi karena kebiasaan nonton film horor sadistis, di dalam diri pelaku sebenarnya tersimpan sebongkah besar permasalahan psikologis yang dalam dan traumatis.

Penanganan kasus ini memerlukan pemeriksaan yang mendalam terhadap pelaku. satu per satu lembaran-lembaran perjalanan hidupnya selama 15 tahun harus dikupas tuntas. Kemungkinan besar ia menjalani hidup dengan tidak mudah. Bisa jadi, pelaku adalah seorang anak yang ”kesepian dan terluka”. Mungkin kebutuhan emosionalnya tak terpenuhi seperti layaknya anak yang lain.

"Penanganannya memang perlu ekstra hati-hati. Diagnosis yang akan ditegakkan oleh para psikolog dan psikiater yang memeriksanya, bisa menjadi acuan berharga dalam proses hukum yang akan dijalaninya," tutur Anisa.

Menurut Anisa, anak yang aspek emosi dan moralnya berkembang dengan baik, maka hal ini tidak akan terjadi. Seseorang yang melakukan tindakan seperti itu berarti tidak mendapatkan pembelajaran yang optimal tentang batasan-batasan perilaku yang pantas dan tidak.

"Bisa diduga, pelaku berada dalam lingkungan yang 'membolehkan' tindakan kekerasan itu terjadi, sehingga ia menganggap itu hal yang biasa, dan tak perlu disesali," ucapnya.

Menurut Anisa, kondisi lingkungan tersebut secara berangsur dan terus menerus akan membentuk skema dalam otaknya bahwa hal itu memang harus dilakukan dan menjadi hal yang wajar. Skema ini bisa menjadi awal gangguan kejiwaan. 

"Stimulasi kekerasan terhadap pelaku bisa menjadi salah satu penyebab mengapa ia melakukan tindakan ini. Apalagi didukung dengan rekam grafologis yang menggambarkan ungkapan hati dan dugaan peristiwa yang pernah ia lalui," lanjut Anisa.

Ia juga menduga pelaku tidak mendapatkan pendampingan yang memadai selama bertumbuh dari kanak-kanak ke masa remaja. "Seandainya saja semua coretannya tertangkap secara dini oleh orang-orang di sekitarnya, lalu dikonsultasikan ke profesional, maka akan segera diketahui kondisi psikologisnya, dan perbuatan yang berbahaya ini bisa dicegah," ujar dia. 

Jika memang benar pelaku sering mendapat tindakan kekerasan oleh orang dewasa di sekitarnya, maka terlihat dari tulisan-tulisannya bahwa sebetulnya ia ingin membalasnya.

Mengapa akhirnya ia melakukannya kepada seorang anak kecil? Bisa jadi, karena ia merasa tidak berdaya dan tak kuasa untuk melakukannya kepada orang dewasa yang ingin dituju. Ketika dorongan untuk melakukan kekerasan itu tetap memenuhi hasratnya maka yang paling memungkinkan korbannya adalah pihak subordinat, yang bisa dikuasainya, yaitu anak kecil yang tak berdaya.

EKA WAHYU PRAMITA