Ketahui Mata Rantai Virus Corona, Kelelawar atau Trenggiling?

Penumpang yang mengenakan masker dan jas hujan plastik saat keluar dari stasiun kereta api di Shanghai, Cina, Jumat, 7 Februari 2020. Lebih dari 37.000 orang terinfeksi virus corona di negara Tirai Bambu tersebut, dengan jumlah korban tewas mencapai 814 orang dan 2.922 telah dinyatakan sembuh. REUTERS/Aly Song

kesehatan

Ketahui Mata Rantai Virus Corona, Kelelawar atau Trenggiling?

Senin, 10 Februari 2020 08:03 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Rini Kustiani

CANTIKA.COM, Jakarta - Virus corona pada mulanya diduga bermula dari kelelawar yang biasa dijadikan bahan makanan masyarakat Cina. Belakangan, muncul dugaan virus yang telah menginfeksi sekitar 37 ribu orang dan menewaskan 811 orang di Cina itu, ditengarai berasal dari trenggiling.

Ilmuwan Cina menyebut trenggiling kemungkinan menjadi penghubung dalam penyebaran virus corona. Hewan bersisik pemakan semut yang terancam punah itu diduga menjadi mata rantai yang hilang antara kelelawar dan manusia. Meski begitu, para ilmuwan lain mengatakan penelitian untuk mengetahui kepastian penyebaran virus ini belum berakhir.

Analisis genetik baru-baru ini menunjukkan bahwa jenis virus corona, yang saat ini menyebar di antara manusia, 96 persen identik dengan yang ditemukan pada kelelawar. Namun, menurut Arnaud Fontanet, dari Institut Pasteur Prancis, virus itu ada kemungkinan tidak langsung berpindah dari kelelawar ke manusia.

Beberapa penelitian menunjukkan kelelawar tidak memiliki perangkat keras untuk menempel pada reseptor sel manusia. Tapi belum jelas hewan mana yang merupakan mata rantai yang hilang. "Ada hewan lain yang menjadi perantara," ujar dia kepada AFP. Fontanet percaya bahwa perantara itu mungkin mamalia dan bisa jadi keluarga musang.

Sup kelelawar yang diduga sumber penyebaran virus corona. Sumber: Daily Star WS/mirror.co.uk

Xinhua, kantor berita resmi Cina, melaporkan, setelah menguji lebih dari 1.000 sampel dari hewan liar, para ilmuwan dari South China Agricultural University menemukan urutan genom virus dalam trenggiling 99 persen identik dengan yang ada pada pasien terpapar virus corona.

Meski begitu, para ahli lainnya mendesak agar berhati-hati. "Ini bukan bukti ilmiah," kata James Wood, Kepala Departemen Kedokteran Hewan di University of Cambridge. Menurut Wood, investigasi ke dalam reservoir (tempat) hewan sangat penting, tapi hasilnya harus dipublikasikan untuk pengawasan internasional. "Hanya melaporkan deteksi dengan urutan kesamaan 99 persen tidaklah cukup," ujar dia.

Bagi Fontanet, virus corona merupakan contoh terbaru dari konsekuensi manusia yang mengkonsumsi hewan pembawa virus. Dia mengatakan Cina perlu mengambil tindakan radikal terhadap penjualan hewan liar di pasar. Francois Renaud, peneliti di Pusat Nasional untuk Riset Ilmiah yang berbasis di Paris, merekomendasikan untuk menyusun daftar pantauan semua hewan yang berpotensi menularkan virus ke manusia.

SCIENCE ALERT | SUKMA LOPPIES