ASI Eksklusif Gagal Bisa Dipicu Ibu Stres dan Minim Pengetahuan

Ilustrasi menyusui. SpineUniverse

kesehatan

ASI Eksklusif Gagal Bisa Dipicu Ibu Stres dan Minim Pengetahuan

Senin, 2 Desember 2019 12:15 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Pemberian air susu ibu atau  ASI eksklusif di enam bulan pertama kehidupan bayi sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal. Namun, di Indonesia angka keberhasilan ASI eksklusif terbilang rendah. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia atau SDKI 2017, angka ASI eksklusif untuk bayi kurang dari enam bulan baru mencapai 52 persen.  

Pakar laktasi Ameetha Drupadi mengatakan, salah satu penyebab gagalnya ASI eksklusif adalah ketidaktahuan ibu tentang menyusui. Banyak ibu baru yang belum punya bekal pengetahuan yang cukup tentang ASI.

Ameetha mencontohkan, biasanya ASI baru keluar di hari ketiga. Ibu tidak perlu khawatir karena bayi juga punya cadangan makanan di tubuhnya untuk tiga hari. “Tapi karena ketidaktahuan ibu, banyak yang langsung memberi bayi susu formula. Kalau sudah terlanjur dikasih susu formula otomatis payudara tidak dirangsang untuk mengeluarkan ASI,” ujar Ameetha yang ditemui di acara ulang tahun kedua aplikasi Teman Bumil di Jakarta, Kamis, 28 November 2019.

Ketika keluar pun, ASI tidak langsung banyak sehingga sering membuat ibu baru merasa stres. Padahal, kata Ameetha, ASI yang sedikit di masa-masa awal menyusui sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan si kecil.

Untuk menghindari kegagalan ASI eksklusif, Ameetha menyarankan para calon ibu mulai berkonsultasi dengan konselor laktasi di usia kehamilan 28 minggu. Di usia kehamilan 36 minggu, biasanya konselor akan mengecek kondisi anatomis ibu, lalu mulai diajarkan pose menyusui dan perawatan payudara. Saat memasuki usia kehamilan 37 minggu, payudara mulai bisa dipijat lembut untuk merangsang kelenjar ASI.

Ketika melahirkan dengan kondisi ibu dan bayi bugar, Ameetha menyarankan melakukan inisiasi menyusui dini atau IMD. “IMD salah satu bentuk rangsangan ASI supaya produksinya lebih banyak sehingga keberhasilan (menyusui) lebih tinggi,” tutur ia.

Untuk ibu bekerja, satu bulan sebelum cuti melahirkan habis mulailah menabung ASI perah untuk stok selama ditinggal kerja. Seminggu sebelum masuk, pengasuh bayi mulai dilatih memberi ASI perah menggunakan sloki, sendok, atau gelas.

Setelah mulai bekerja, ibu juga dapat melanjutkan memompa ASI di kantor. Tapi ketika berada di rumah, sebaiknya ibu tetap menyusui bayi secara langsung.

 
MILA NOVITA