Mengulik Sosok Franka Franklin, Istri Nadiem Makarim

(Ujung paling kanan) Franka Franklin, istri Nadiem Makarim. (Instagram@happysalma)

ragam

Mengulik Sosok Franka Franklin, Istri Nadiem Makarim

Selasa, 22 Oktober 2019 12:15 WIB
Reporter : Eka Wahyu Pramita Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, JAKARTA - Pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim hadir di Istana Negara pada Senin 21 Oktober 2019. Ia mengatakan jika Presiden Joko Widodo atau Jokowi memintanya menjadi salah satu menteri. "Ini suatu kehormatan yang luar biasa saya diminta untuk bergabung kabinet Pak Presiden," kata Nadiem Makarim usai dipanggil Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 21 Oktober 2019.

Nadiem menyatakan menyanggupi tawaran tersebut. Meski ia tidak tahu bakal ditempatkan sebagai menteri apa. "Masalah posisi spesifiknya saya belum bicara mengenai itu karena itu hak prerogatif presiden," ujar lulusan Universitas Harvard ini.

Mengingat idiom, Di belakang lelaki hebat, terdapat perempuan yang tak kalah hebat, kami pun mengulik siapa sosok istri Nadiem Makarim yang sukses membawa Startup Gojek menjadi bisnis Decacorn. 

(Ujung paling kanan) Franka Franklin, istri Nadiem Makarim. (Instagram@happysalma)

Franka Franklin Makarim tak kalah produktif dari riwayat pengalaman suaminya. Dalam biodata Franka di profil Linkedin miliknya tertulis ia lulusan Hogeschool Rotterdam di Belanda, Northumbria University Singapore. Pengalaman studinya membawa ia menduduki jabatan strategis di perusahaan multinasional.

Sebelum bergabung ke bisnis perhiasan Tulola Jewelery yang didirikan oleh Happy Salma dan desainer Sri Luce Rusna, ibu satu putri ini pernah bekerja di beberapa retail bergengsi E-commerce fashion Berrybenka sebagai Vice President Merchandising & Business Development.

Selain aktif berbisnis, Franka ikut menanamkan nilai-nilai budaya dalam keluarga kecilnya. Contohnya, dari unggahan Instagram pribadi, ia terlihat menjalani tradisi Jawa seperti mitoni atau tujuh bulanan kehamilan dan tedhak siten untuk putri pertamanya. Franka tampak mengenakan kebaya dari Biyan dalam prosesi mitoni, dipadu dengan kain tradisional dengan motif truntum yang artinya cinta tanpa syarat. Sementara, saat siraman ia mengenakan kain tradisional dengan motif Kawung yang artinya kesucian.