Cara Aman Menyantap Makanan Berlemak dari Pakar Gizi

Ilustrasi rendang. shutterstock.com

kesehatan

Cara Aman Menyantap Makanan Berlemak dari Pakar Gizi

Senin, 30 September 2019 18:00 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Sedang berpikir ingin menyantap masakan Padang untuk  makan malam hari ini? Tapi ada sedikit kekhawatiran dengan lemak yang bisa meningkatkan level kolesterol dalam darah. Memang godaan kelezatan makanan itu kerap sulit dilewatkan, oleh karena itu berikut ini ada sejumlah cara aman menyiasatinya. 

Pakar gizi pangan Ali Khomsan mengatakan, makanan berlemak dan berkolesterol bisa aman asalkan disandingkan dengan makanan berserat tinggi seperti buah-buahan dan sayuran. “Intinya semua makanan berlemak dan berkolesterol bisa diantisipasi dengan makan sayur dan buah karena makanan tersebut mengandung antioksidan tinggi,” kata Ali saat berbicara di Health and Nutrition Journalist Academy di Jakarta, beberapa waktu lalu

Menurut profesor dari Institut Pertanian Bogor itu, kolesterol akan sangat berbahaya ketika teroksidasi dan menyebabkan penyumbatan di pembuluh darah. Kondisi ini bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung karena terhentinya aliran darah ke otak dan jantung.

Namun, ketika mengonsumsi antioksidan dalam jumlah cukup, akan terjadi pengurangan oksidasi sehingga bisa mencegah penyumbatan. Ia mencontohkan, masakan Padang yang selama ini identik dengan lemak dan kolesetrol, bisa disantap dengan sayur dan buah. Biasanya seporsi nasi Padang sudah termasuk sayur daun singkong dan mentimun.  

“Daun singkongnya jangan lupa dimakan karena bisa menetralisasi lemak di dalam tubuh,” papar Ali.

Selain itu, makanan Padang seperti rendang biasanya dicampurkan dengan beragam rempah yang tanpa disadari berfungsi mengalahkan lemaknya. “Misalnya cabai yang mengandung tinggi antioksidan,” tuturnya.

Itu sebabnya, Ali Khomsan menyarankan, jika ingin mengonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol, sebaiknya terlebih dahulu makan buah dan sayur. Selain mencegah proses oksidasi, sayur dan buah juga bisa mengurangi keinginan orang mengonsumsi lemak dalam jumlah berlebihan.

Sayangnya, konsumsi serat orang Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, 95 persen penduduk kurang makan buah dan sayur. “WHO menganjurkan konsumsi serat sebanyak 400 gram per hari, sedangkan orang Indonesia rata-rata hanya mengonsumsi sekitar 100 gram. Kalau bisa dikasih intervensi sehingga konsumsinya meningkat, itu bisa menekan merebaknya penyakit degeneratif,” tukas Ali.

Selain mencukupi serat, Ali juga menyarankan berolahraga setelah mengonsumsi makanan berlemak atau berkolesterol. "Olahraga bisa meningkatkan kolesterol baik atau HDL. Kolesterol baik ini akan ‘menyapu’ kolesterol jahat,” tandasnya.

MILA NOVITA