Anak Berisiko Stunting Bisa Dipicu dari Mitos Seputar Kehamilan

kesehatan

Anak Berisiko Stunting Bisa Dipicu dari Mitos Seputar Kehamilan

Senin, 16 September 2019 21:00 WIB
Reporter : Tempo.co Editor : Silvy Riana Putri

CANTIKA.COM, Jakarta - Beragam mitos beredar terkait makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil. Berhati-hatilah kepercayaan pada mitos bisa mempengaruhi pemenuhan gizi pada ibu hamil dan janin. Anak yang dilahirkan dari ibu yang kekurangan gizi berisiko mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan karena kekurangan gizi kronis. 

Lead Program Manager untuk Stunting Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Sekretariat Wakil Presiden RI, Iing Mursalin, mitos larangan mengonsumsi makanan tertentu selama hamil dan menyusui mengancam banyak ibu di daerah. Ia mencontohkan, salah satu mitos yang banyak beredar adalah ibu hamil dilarang makan cumi-cumi.

“Katanya kalau makan cumi-cumi atau gurita nanti bayinya terlilit saat lahir. Padahal, ibu hamil membutuhkan protein hewani agar tidak anemia,” kata dia saat di depan peserta Health and Nutrition Journalist Academy 2019 di Jakarta beberapa waktu lalu.

Iing juga mengatakan di beberapa daerah juga terdapat mitos suami dari ibu hamil tidak boleh pergi memancing karena bisa membuat anak lahir dengan bibir sumbing.

Mitos lainnya adalah ketika ibu melahirkan dan menyusui. Banyak ibu di daerah yang membuang kolostrum, yaitu cairan kuning yang keluar sebelum air susu ibu atau ASI. Mereka menganggap kolostrum merupakan Air Susu Ibu (ASI) basi yang tidak boleh dikonsumsi anak. Padahal, kolostrum merupakan nutrisi yang sangat penting bagi bayi, terutama untuk memperkuat daya tahan tubuhnya terhadap kuman penyebab infeksi.

Sebaliknya, banyak ibu yang memberikan madu, air putih, dan pisang pada anak yang baru lahir. “Padahal bayi hingga usia 6 bulan sebaiknya diberi ASI eksklusif,” kata Iing yang pernah menjabat direktur di Millenium Challenge Account – Indonesia ini.

Iing mengatakan pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui menjadi salah satu kunci keberhasilan pencegahan stunting di Indonesia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018, sebanyak 30,8 persen atau sekitar 9 juta anak Indonesia saat ini mengalami stunting. Jumlah terbesar ada di Sulawesi Barat dan Nusa Tenggara Timur.

MILA NOVITA