Risiko Hamil dan Melahirkan di Usia Matang

Ilustrasi ibu melahirkan. shutterstock.com

kesehatan

Risiko Hamil dan Melahirkan di Usia Matang

Jumat, 21 Juni 2019 19:08 WIB
Reporter : Cantika.com Editor : Yayuk Widiyarti

CANTIKA.COM, Jakarta - Banyak pasangan yang menunda untuk punya anak dan merencanakan kehamilan setelah berusia 35 tahun. Bagi wanita, hal ini bisa meningkatkan beberapa risiko kesehatan, baik pada ibu maupun janin.

Para ahli kesehatan prihatin tentang tren yang memiliki risiko ini, walaupun ada penelitian yang mengatakan bahwa peluang wanita matang melahirkan anak kembar dan lebih cerdas lebih tinggi. Ibu di usia matang umumnya lebih dewasa dalam menghadapi polah anak. Namun, apa alasan menunda kehamilan hingga usia 35 tahun berisiko?

Berikut beberapa masalah yang mungkin terjadi jika menunda kehamilan hingga wanita berusia matang, dilansir dari laman Boldsky.

Baca juga:Sebab Risiko Gigi Sensitif Meningkat pada Ibu HamilKiat Menjaga Berat Badan Tak Naik Drastis Selama Hamil

#Sel telur dalam ovarium berkurang sehingga berisiko peluang untuk hamil berkurang.

#Setelah usia 30 tahun, ovulasi wanita cenderung menurun dan menurunkan peluang hamil mesti tidak menggunakan pengaman saat berhubungan seks.

#Masalah kesehatan reproduksi seperti pada tuba falopi, endometriosis bisa mencegah kehamilan.

#Peluang bayi lahir dengan cacat bawaan lahir lebih tinggi. Peluang cacat bawaan adalah 1 dari 30 jika hamil setelah usia 45 tahun. Tapi pada usia 30 tahun, peluangnya adalah 1 dari 1000. Artinya peluang untuk mempunyai bayi yang sehat lebih besar saat masih muda.

#Kemungkinan mengalami keguguran meningkat seiring pertambahan usia.

#Persalinan akan terasa lebih nyeri dan berisiko setelah usia tertentu.

#Masalah terkait kesuburan meningkat, baik pada pria dan wanita setelah usia 35 tahun. Ini salah satu alasan mempunyai anak pertama saat usia masih muda.

#Menjalani peran sebagai orang tua terasa lebih berat jika kehamilan terjadi di usia matang. Mendidik dan membesarkan anak bukanlah pekerjaan mudah. Perlu bekal yang cukup baik fisik maupun emosional dalam mengarahkan anak.