Cerita Hijrah Soraya Larasati, dari Satu Kebaikan Jadi Nagih

Soraya Larasati saat menghadiri Trunk Show Ramadan Zaskia dan Shireen Sungkar, di Eastern Opulence Restaurant, Jakarta Selatan, Senin 29 April 2019. TEMPO/Astari P Sarosa

ragam

Cerita Hijrah Soraya Larasati, dari Satu Kebaikan Jadi Nagih

Minggu, 2 Juni 2019 10:05 WIB
Reporter : Antara Editor : Yunia Pratiwi

CANTIKA.COM, Jakarta - Soraya Larasati menceritakan perjalanan religinya sebelum memutuskan berhijrah. Ia merasa lahir sebagai muslim bukan jaminan seseorang akan selalu taat menjalankan ibadah wajib termasuk shalat dan berpuasa di bulan Ramadan.

Baca juga: Soraya Larasati Berbagi Tips Olaharaga saat Puasa Ramadan

Soraya mengaku sering tergoda untuk tak berpuasa saat bersekolah, kendati ia sudah diajarkan berpuasa sejak sekolah dasar. "Aku muslim dari lahir. Muka boleh Tionghoa tapi muslim. Dulu aku sekolah di sekolah Katolik, sedangkan aku muslim sendiri. Ketika ada promo-promo di kantin, buy one get one, bakso harga miring, aku tergiur," kata dia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Begitu juga untuk urusan salat, ia mengaku beribadah hanya jika ingat saat itu.Hingga pada tahun 2008, perempuan kelahiran tahun 1986 itu tiba-tiba menyadari ada kehampaaan dalam hatinya. "Kayak tiba-tiba seperti diberi hidayah. Pada dasarnya manusia itu hanif, baik. Tetapi kadangkadang salah gaul, kurangnya pendidikan agama. Hidup merasa hampa saja," tutur Soraya Larasati.

Seorang kolega lalu menyarankannya melakukan shalat dan ibadah lainnya yang menjadi kewajiban seorang muslim. "Lalu ada yang ngasih tahu, salat saja. Aku kan muslim ya salat. Setelah aolat aku merasa adem, entah itu karena air wudhu yang masih menempel atau apa," ujar dia.

Perlahan, dia memperbaiki salatnya. Dari yang semula hanya jika ingat, menjadi lima waktu. Dari yang semula diiringi hati yang berat menjadi ikhlas. Begitu juga dengan puasa di Ramadan, dia mencoba menjalankannya penuh tanpa dramabolong-bolong kecuali saat menstruasi.

Pada tahun 2010, dia menjalankan ibadah umroh ke tanah suci dan berdoa segeramendapatkan jodoh. Dua tahun kemudian, doanya terkabul. bmenikah dengan lelaki pilihannya dan kini dikaruniai dua orang anak. Rasa hausnya menerapkan ajaran-ajaran Islam lalu menuntunnya berhijab hingga saat ini.

"Kalau sudah menuju kebaikan maunya lebih-lebih. Berniat nyari jodoh, doa saat umroh di 2010. Akhirnya menikah tahun 2012. Dari situ punya anak, ingin lebih taat lagi, berhijab baru," kata perempuan penyuka gorengan itu.

Di Ramadan tahun ini, Soraya Larasati bertekad menjadi pribadi yang semakin taat beribadah, salah satunya rajin menjalankan sunnah-sunnah seperti tarawih berjamaah dan tahajud di malam hari. "Berusaha menjaga shalat tarawih di mesjid, tahajud dijaga yang sunnah-sunnah. Dulu kan enggak. Enggak pakai tahajud," tandasnya.