Alasan Autisme Terus Ada dari Generasi ke Generasi

Ilustrasi terapi untuk anak/autisme. Shutterstock

kesehatan

Alasan Autisme Terus Ada dari Generasi ke Generasi

Rabu, 21 Februari 2018 16:02 WIB
Reporter : R. Dina Andriani Editor : Yunia Pratiwi

CANTIKA.COM, Jakarta - Para ilmuwan melakukan sebuah penelitian untuk mencari tahu alasan gangguan autisme tidak hilang melalui seleksi alam selama evolusi. Dalam jurnal PLoS Genetics, peneliti dari Universitas Yale di Amerika Serikat menemukan hubungan gen autisme membuat manusia lebih pintar.

Penelitian ini dilakukan terhadap 5.000 orang dengan otak yang luar biasa serta gangguan spektrum autisme (ASD). Para peneliti menemukan varian gen tertentu yang berfungsi meningkatkan kinerja dan kekuatan otak seperti molekul untuk membuat neuron baru agar manusia lebih pintar, namun mereka mengalami gangguan spektrum autisme (ASD). 

Baca: Jawaban Kalina Oktarani Saat Anaknya Disebut Autis

Teori Evolusi Charles Darwin Evolusi menyatakan varian gen yang membawa efek negatif terhadap reproduksi manusia dieliminasi melalui seleksi alam. Mengutipparentherald.com, keuntungan varian gen lebih besar daripada dampaknya sehingga dapat bertahan hidup dalam evolusi. 

Peneliti berasumsi hal ini berpotensi menjelaskan mengapa autisme terus ada dari generasi ke generasi. "Kami menemukan sinyal positif yang kuat antara gangguan spektrum autisme dengan peningkatan intelektual," kata peneliti Renato Polimanti dalam siaran pers Yale.

"Bahwa selama evolusi varian ini memiliki efek positif pada fungsi kognitif dengan risiko gangguan spektrum autisme meningkat," kata pendamping penulis dalam penelitian Joel Gelernter.

Baca juga: Ketika Terapi Autisme Tak Berhasil, Rencana B Harus Disiapkan

Di seluruh dunia, hanya 1 persen dari populasi telah didiagnosa dengan ASD. Di Amerika Serikat, risiko perkembangannya terjadi pada 1 dari 68 kelahiran, ditulis Autism Speaks.

Seperti diketahui bahwa orang-orang dengan autisme memiliki kemampuan lebih baik dalam bidang matematika, ilmu pengetahuan, musik, atau seni. Orang dengan ASD, umumnya kemampuan bahasa dan kemampuan sosial dan kemampuan pengelolaan emosinya kurang.